Skip to content

ELANG JAWA ; Sang Garuda Perkasa dari Pulau Jawa

Juni 6, 2010

Sahibul hikayat tersebutlah Sang Garuda Perkasa yang sakti mantraguna. Ia dilahirkan dari sebutir telur yang dijaga selama lebih dari 500 tahun oleh ibunya yang bernama Winata. Kelahirannya disertai dengan sinar terang yang menyala-nyala menutupi angkasa.

Karena begitu saktinya, kemanapun Sang Garuda, pergi kedatangannya selalu didahului oleh badai kilat dan debu, angin gelap keluar dari keduabelah sayapnya. Kempat penjuru mataangin pun menjadi gulita. Demi melihat  kesaktiannya melebihi kesaktian para Dewa di Kahayangan maka Sang Hyang Wisnu memintanya untuk menjadi kendaraannya.*

Itulah sekelumit cerita tentang keperkasaan sang Garuda yang sakti mantraguna itu. Akan tetapi garuda yang kita kenal sekarang tidaklah sesakti itu. Ia kalah “sakti” dari pemburu, sehingga jumlahnya semakin berkurang. Selain itu ternyata para pemilik “ajian” HPH  dengan segala kesaktiannya (baca; surat sakti) itu juga telah memporak-porandakan “kerajaan” Sang Garuda.

Lambang Negara

Ternyata bangsa Indonesia pun tidak mau kalah dengan dewa Wisnu yang menggunakan Garuda sebagai kendaraannya, Bangsa Indonesiapun menggunakan Garuda menjadi lambang negara. Ia digambarkan sebagai burung elang yang merentangkan sayapnya dan dikalungi tameng baja yang naujubillah berat dan dihiasi lambang – lambang  yang dikenal sebagai Pancasila.

Entah bagaimana awal ceritanya, atau karena sama-sama memiliki jambul maka Elang jawa ini diidentikkan dengan Garuda lambang negara kita, sampai-sampai oleh presiden Suharto diresmikan sebagai burung nasional pada tanggal 10 Januari 1993. Kondisi ini ternyata menjadi malapetaka bagi Elang jawa, permintaan pasar menjadi tinggi. Orang-orang  berebut memeliharanya karena menurut mereka Elang jawa memiliki nilai prestisius yang tinggi. Mereka bangga karena memelihara burung yang sama dengan lambang negera, langka dan mahal.

Hanya di Pulau Jawa

Garuda adalah nama yang diberikan oleh orang-orang awam baik di kota maupun di desa kepada burung  elang. Bila didaerah pantai garuda identik dengan Elang laut, sedangkan di daerah pegunungan hampir semua jenis elang yang berukuran besar disebut garuda.

Para ahli perburungan (ornitologist) ternyata berpendapat lain. Mereka mengidentikkan garuda dengan Elang Jawa atau Javan Hawk-Eagle. Nama ini diberikan karena burung tersebut hanya ditemukan di Jawa.

Burung  ini ditemukan pertamakali pada tahun 1820. Tidak diketahui siapa yang menemukannya tahu-tahu empat tahun kemudian Meneer Stresemann mempublikasikannya dengan nama lokal Elang Jawa. Karena ada kemiripan dengan elang dari kelompok Spizaetus yang terdapat di Asia maka elang ini diberi nama Spizaetus nipalensis bartelsi, sedang sebagian ahli perburungan memberi nama Spizaetus nanus bartelsi.

Kenapa nama belakangnya bartelsi? Nama ini diberikan untuk menghormati Meneer M. Bartels Sr. yang  telah bersusah payah mengumpulkan spesimen burung ini selama bertahun-tahun di seantero pulau Jawa. Seratus tiga-puluhtiga tahun kemudian D. Amadon mempopulerkan elang ini sebagai satu spesies tersendiri yang terpisah dari kerabat-kerabatnya di kelompok Spizaetus sehingga namanya dirubah menjadi Spizaetus  bartelsi – tanpa tambahan nanus atau nipalensis ditengahnya.

Elang jawa tersebar di hutan tropika basah di pulau Jawa yang berbukit-bukit sampai ketinggian 3000 m. Di beberapa tempat seperti di Taman Nasional Merubetiri burung ini hidup di hutan pantai. Mereka tidak hidup berkelompok seperti halnya burung emprit, melainkan berpasangan. Setiap pasangan mempunyai daerah kekuasaan (teritorial) sendiri-sendiri. Daerah ini dipertahankan sampai titik darah penghabisan dari pendatang haram. Bila ada yang nekat ke wilayahnya maka akan segera diusir. Batas daerah teritorial ditandai dengan melakukan gerakan terbang turun naik yang disebut displai (display) di sepanjang batas wilayanya.

Kasih sayang seorang ibu

Untuk membesarkan anak-keturunanya Elang jawa membangun sarang di puncak pohon yang tinggi. Sarang dibuat dari ranting-ranting dan disusun seperti tumpukan yang tebal dan tidak teratur. Di Jawa Barat pohon yang digunakan untuk meletakkan sarang adalah Pohon Pasang. Pasang adalah nama lokal untuk pohon dari jenis Lithocarpus sp dan Quercus sp. Disamping itu sarang juga dibuat di atas pohon Rasamala (Altingia exelsa).

Kematangan seksual Elang jawa tercapai setelah berumur tiga sampai empat tahun. Beberapa ahli mengatakam bahwa masa berkembangbiak (breeding session) hanya terjadi sekali dalam dua tahun. Akan tetapi berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh Yayasan Telapak Indonesia (YTI)  di Jawa Barat teryata tiga bulan setelah anaknya diambil oleh penangkap burung Elang jawa bisa bertelur kembali. Kondisi ini diyakini sebagai salah satu mekanisme alamiah dalam upaya “pemulihan populasi” oleh Elang jawa. Sampai saat ini belum ada informasi yang pasti mengenai masa berbiaknya. Beberapa ahli mengatakan mereka bersarang pada bulan Mei sampai dengan Agustus.

Selama masa berbiak dihasilkan satu butir telur berwarna putih berbintik coklat kemerahan. Telur tersebut dierami selama kurang lebih satu setengah bulan. Setelah menetas anak yang cuma semata wayang itu dipelihara dengan kasih sayang seorang ibu elang yang tulus. Setiap hari anak itu disuapi dengan makanan kesukaannya yaitu daging mentah yang masih segar.

Ketika makanan telah tersedia, induk betina akan mencengkaram makanan tersebut dengan ke dua kakinya kemudian dikuliti walau kadang tidak bersih kemudian dicabik-cabik menjadi potongan kecil-kecil lalu disuapkan dengan penuh kasih sayang kepada anaknya. Bila menjumpai bagian keras seperti tulang maka bagian itu akan dimakan sendiri, begitupun bila ada sisa.

Bajing adalah makanan favorit

Untuk kelangsungan hidupnya Elang Jawa memangsa binatang yang ada di sekitarnya. Binatang itu dicengkeram dengan cakarnya yang kuat dan tajam kemudian dirobek-robek secara kejam menjadi potongan-potongan kecil baru dimakan. Bajing (Collisciurus notatus), Kelelawar, Tupai (Tupaia sp), Tikus, Jelarang (Ratufa bicolor), dan  burung adalah beberapa jenis binatang yang sering dimangsa Elang jawa. Bajing adalah makanan favorit Elang jawa.

Bagaimana sih kok bisa tahu makanannya? Apa sarangnya ditunggui setiap hari?  Untuk mengetahui jenis hewan yang dimakan Elang jawa  menurut YTI, selain melakukan pengamatan langsung di lapangan juga dilakukan melalui wawancara dengan masyarakat sekitar hutan dan identifikasi pellet (muntahan). Pellet yang terdiri dari bagian-bagian yang tidak tercernakan seperti bulu, rambut, tulang, dan kuku ini diambil dari sarang kemudian didentifikasi. Dari hasil identifikasi tersebut bisa diketahui apa saja makanan dari yang punya pellet itu.

Populasinya kecil

Dengan susah payah para ahli menghitung populasi Elang jawa  di hutan yang ada di seantero jawa. Beberapa dari mereka, seperti Mayburg dan kawan-kawannya, pada tahun 1989 mengemukakan bahwa populasi Elang jawa  hanya 50 – 60 pasang. Lima  tahun kemudian bersama temannya, Bas van Ballen, memunculkan perkiraan baru sekitar 52-61 pasang dengan kemungkinan tambahan 15-20 pasang di lokasi-lokasi yang belum disurvai. Selang satu tahun kemudian duo birders Rezit sözer dan Vincen Nijman memberikan perkiraan sekitar 81-108 pasang dengan 23-31 pasang terdapat di daerah yang belum disurvai. Perkiraan terbaru yang didasarkan pada kenyataan bahwa populasi Elang jawa juga terdapat di wilayah hutan terpencil dan dikombinasikan dengan rasio antar burung dewasa dan burung remaja (juvenil), populasi Elang jawa berkisar antara 141 – 204 pasang atau sekitar 141-1000 ekor.

Kerajaannya seperti totol Dalmatian

Dalam dekade  terakhir ini diduga perdagangan Elang jawa semakin marak terutama setelah “dilantik” oleh presiden Suharto menjadi satwa nasional serta karena kemiripannya dengan burung Garuda lambang negara. Dari survai yang dilakukan oleh Konservasi Satwa Bagi Kehidupan (KSBK) Malang,  lebih dari 20-40 pasang Elang jawa telah diperdagangkan setiap bulan secara bebas dalam beberapa tahun terakhir.

Disamping perdagangan, faktor pembatas populasi Elang jawa yang lain adalah  penurunan kwalitas dan luas habitat, populasi terpencil dan pestisida. Penebangan hutan menyebabkan berkurangnya jenis pohon yang digunakan untuk bersarang. Pohon yang tinggi dan emergen dengan penutupan tajuk yang lebar adalah pohon favorit untuk membuat sarang.

Pembukaan hutan secara-besar-besaran menyebabkan hutan menjadi fragmen-fragment yang terpisah satu sama lain, kira-kira seperti totol pada anjing lucu “Dalmatian”.  Jenis yang hidup dalan “totol” tersebut akan terisolasi dari keluarga, kerabat dan teman-temanya di “totol” yang lain. Bila dalam “totol” tersebut populasinya banyak akan terjadi persaingan yang tidak sehat dalam pembagian jatah kapling (teritorial), makanan dan “cewek”. Tidak jarang terjadi perkelahian hanya karena hal itu. Sedang bila jumlah populasinya kecil mereka akan kebingungan mencari pasangan untuk kawin. Kenapa? Karena bisa jadi betina yang ada di lokasi adalah anak atau saudara sendiri. Karena “terpaksa” perkawin antar saudara yang dalam dunia ilmiah disebut dengan inbredding terpaksa dilakukan. Perkawinan seperti ini akan dipercaya akan menurunkan kualitas genetik pada keturunan berikutnya.

Penggunaan pestisida secara luas dan sembarangan  juga merupakan faktor yang menyebabkan penurunan populasi Elang jawa. Selain berkurangnya jumlah hewan buruan,  pestisida akan terakumulasi dalam bentuk residu pestisida dalam tubuh Elang jawa yang nota bene adalah top predator. Tidak jarang ada yang langsung “koit” setelah memakan mangsa yang ternyata keracunan. Akumulasi residu pestisida dalam tubuh elang akan menyababkan gangguan fisiologis terutama pada sistim reproduksi, seperti menipisnya cangkang telur.

Dikeroyok ramai-ramai

Untuk mengembalikan populasi ke kondisi yang ideal  diperlukan usaha-usahan konservasi secara terpadu. Langkah utama yang harus diambil adalah melindungi kawasan yang realtif masih baik. Untuk pengamanan kawasan ini diperlukan aparat-aparat kehutanan yang berdedikasi dan mempunyai komitmen yang tinggi terhadap kelestarian lingkungan serta membuat  tapal batas yang jelas. Disamping itu perlu dilakukan penelitian-penelitian mengenai aspek ekologi, biologi, sosial kemasyarakatan dan aspek-aspek yang lain.

Suapaya pengelolaan Elang jawa menjadi lebih terintegrasi maka pada bulan Oktober 1996 dibentuk Kelompok Kerja Pelestarian Elang Jawa yang disingkat KKPEJ. Pokja ini merupakan perwakilan dari Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup (LH), Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), BirdLife International- Indonesia Programme, Flora Fauna International Indonesia Programme, Word Wide Fund for Nature – Indonesia, Fondation for Nature Research and Cultural Heritage Research Norwegia, dan Lembaga Swadaya Masyarakat lokal seperti Yayasan Pribumi Alam Lestari, Cibodas Birds Association, Telapak Indonsia di Jawa barat, Kutilang di Jawa Tengah dan Yogyakarta dan Konservasi Satwa Bagi Kehidupan di Jawa Timur.

Semoga Elang jawa tidak menjadi mitos yang melegenda dan wujudnya hanya bisa dilihat di kebun binatang atau dalam bentuk opsetan di museum.

* Dari Hikayat Sang Garuda yang ditulis W.A Jatmiko untuk KKPEJ 1998.

About these ads
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: