Skip to content

Pendapatan Baru dari Agroforestri Kopi

Agustus 3, 2010

Kiprah agroforestri, 11 oktober 2009

Musim panen tahun ini saya dapat 20 ekor anakan dari delapan sarang”, jawab Jero Sumantre ketika ditanya hasil panen anakan anis merah (Zoothera citrina) dari areal agroforestriri kopi seluas 1,75 ha yang ia kelola. Rata-rata harga satu anak anis merah mencapai dua ratus ribu rupiah. Harga yang “wajar” untuk burung yang saat ini sedang menjadi primadona di kalangan para hobi pemelihara burung.Anis merah menempati urutan ketiga dari sepuluh jenis burung yang paling banyak dipelihara di Indonesia (Amana, 2007 in press.)

Panen anakan anis merah memberi tambahan pendapatan yang signifikan bagi petani agroforestri kopi di Bali. Terlebih, panen anis merahberlangsung setelah musim panen kopi, sehingga petani dapat memperoleh penghasilan sepanjang tahun. Meski hasilnya lebih sedikit dibanding hasil panen kopi, namun investasi dan tenaga yang diperlukan untuk mendapatkannya juga sangat rendah.

Keberadaan sarang anis merah merupakan dampak dari pengelolaan agroforestri kopi yang dikombinasikan dengan pemeliharaan kambing atau sapi. Pemilihan jenis perindang dan tanaman pencampur juga berdampak bagi keberadaan sarang anis merah pada areal agroforestri yang dikelola.

Pemanenan burung pada areal agroforestri berpotensi menekan penangkapan burung pada kawasan-kawasan konservasi. Kewenangan penuh petani dalam mengelola lahan membuka peluang bagi berkembangnya pengetahuan baru terkait penangkaran burung di alam. Terlebih, sekitar 30% dari 2,5 juta burung yang dipelihara oleh masyarakat di Indonesia setiap tahun adalah burung-burung berkicau yang belum dapat dipenuhi dari hasil penangkaran dalam kandang (Jepson and Ladle, 2005). Amana (2007) mencatat hampir 1,5 juta burung yang dipelihara oleh masyarakat di Indonesia adalah hasil tangkapan di alam. Hal ini membuka peluang besar untuk pengembangan praktek penangkaran pada kawasan agroforestri yang secara langsung akan berkontribusi pada peningkatan pendapatan petani pengelola agroforestri. Informasi yang didapatkan penulis memberikan gambaran bahwa praktek serupa juga berlangsung untuk jenis Sikatan Cacing (Cyornis banyumas) di Kulonprogo-DI.Yogyakarta, Anis Kembang (Zoothera interpres) di Nusa Tenggara Timur, Jalak Putih (Sturnus melanopterus) di Nusa Penida-Bali dan Cendet (Lanius schach) di Madura dan Pati, Jawa Tengah.

Beberapa orang petani di Bali saat ini tengah melakukan inovasi untuk dapat meningkatkan hasil panen anis merah, diantaranya melalui pemasangan sarang buatan, peningkatan jumlah pakan, dan mengurangi jumlah predator. Pengalaman lebih dari 10 tahun memanen anakan anis merah di sarang membuat petani telah mampu mengenali materi-materi sarang yang sering digunakan dan tempat-tempat yang disukai anis merah untuk bersarang. Pengetahuan ini menjadi dasar untuk membuat sarang-sarang buatan dan menempatkannya pada tempat-tempat tertentu.

Makanan utama anis merah adalah cacing. Peningkatan populasi cacing tanah dilakukan dengan meningkatkan proporsi pupuk kandang dan secara bertahap mengurangi pupuk buatan.
Sementara itu, pembasmian predator masih dilakukan secara mekanis dengan menangkap dan menembak bajing, tikus, ular, alap-alap dan burung hantu yang sejauh pengetahuan petani merupakan hama bagi anis merah.

Peningkatan produktivitas panen anakan anis merah berjalan selaras dengan pengembangan produk organik. Jika praktek ini dapat dikembangkan dan disebarluaskan, peningkatan pendapatan petani pengelola agroforestri kopi tidak hanya akan didapatkan dari nilai produk kopi organik yang memiliki harga lebih tinggi, namun juga secara langsung dari hasil panen burung. Jasa lingkungan bagi petani diperoleh dari berkurangnya tekanan terhadap pengambilan burung pada kawasan konservasi karena kebutuhan burung untuk hobi pemeliharaan burung dapat dipenuhi dari panen pada kawasan agroforestri.

Satu-satunya tantangan dalam praktek pemanenan anis merah adalah dalam regenerasi indukan. Semua sarang yang ditemukan masih dipanen, belum ada upaya untuk menyisakan sebagian anakan guna mengganti pasangan berbiak yang telah memasuki masa tidak produktif. Pengetahuan tentang usia produktif anis merah belum diketahui, sehingga kuota anakan yang harus disisakan untuk menjadi pasangan berbiak baru juga belum dapat ditentukan. Permasalahan serupa juga masih dihadapi oleh para penangkar burung dalam kurungan (exsitu). Peran serta para ahli biologi untuk memfokuskan pada penelitian usia produktif ini sangat diharapkan, guna menjamin adanya praktek pemanenan yang berkelanjutan.

Sementara ini, sebelum pengetahuan tentang usia produktif anis merah dapat diketahui, kuota panen guna menjamin praktek pemanenan secara berkelanjutan dapat dilakukan dengan pembatasan waktu panen. Musim puncak berbiak anis merah berlangsung seiring dengan musim penghujan yang berlangsung selama kurang lebih enam bulan. Para petani dapat melangsungkan praktek pemanenan anis merah selama tiga bulan di awal musim penghujan, sehingga sarang-sarang yang aktif pada tiga bulan terakhir diharapkan akan dapat menjadi indukan baru pada musim berikutnya.

Sepintas penentuan kuota waktu panen ini akan mengurangi pendapatan petani, namun dugaan penulis justru sebaliknya. Dengan bertambahnya pasangan berbiak pada areal agroforestri yang kita kelola setiap tahun, maka hasil panen juga akan meningkat secara bertahap setiap tahun sampai pada batas daya dukung yang dimiliki oleh areal agroforestri yang kita kelola. Daya dukung areal agroforestri sebagai tempat bersarang anis merah juga masih dapat ditingkatkan dengan penyediaan cacing secara langsung disekitar tempat bersarang. Cacing dapat diperoleh dengan membudidayakannya secara mandiri atau membeli dari para peternak cacing.

Dugaan ini memang masih harus dibukikan dengan pemantauan jangka panjang dan para pengelola agroforestri kopi lebih tepat untuk menjalankannya. Semoga kedepan keberadaan burung dan berbagai keanekaragaman hayati lain yang ada pada areal agroforestri benar-benar dapat meningkatkan pendapatan petani secara langsung dan berkelanjutan.

Informasi yang dirangkum dalam artikel ini merupakan hasil penelitian “Assessing the Sustainability of Harvesting of Orange-headed Thrush Chick on Bali” yang dilakukan penulis selama delapan bulan di agroforestri kopi di Bali. Penelitian ini didanai oleh RSGF (www.ruffordsmallgrants.org).

About these ads
No comments yet

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: