Skip to content

Pusat Penyelamatan Satwa Yogyakarta

Juni 23, 2008

Kegiatan: Pusat Penyelamatan Satwa

Jangka waktu: th. 2000 – th.2020, Evaluasi setiap 5 tahun

Manager: Sugihartono

Donor: The Gibbon foundation

Mitra: BKSDA Jawa Tengah, BKSDA DI.Yogyakarta, HIJAU, dan KANOPI INDONESIA

PPSJ adalah sebuah lembaga untuk menampung satwa dilindungi hasil sitaan aparat keamanan dari masyarakat yang memperdagangkannya atau memilikinya sebagai hewan piaraan.

Berdasarkan UU No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, jenis-jenis satwa dilindungi tidak boleh diperdagangkan atau dipelihara. Di Indonesia, isu ini menjadi persoalan lingkungan serius karena menjadi ancaman kedua — setelah kerusakan hutan — terhadap kelestarian satwa liar di habitatnya.

Harapan menyelesaikan persoalan ini muncul pada tahun 2002 ketika The Gibbon Foundation, sebuah lembaga yang bergerak di bidang perlindungan satwa liar menandatangani MoU (Memorandum of Understanding) dengan Direktorat jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (Ditjen PHKA). Salah satu butir kesepakatannya adalah The Gibbon Foundation akan membangun beberapa PPS di Indonesia untuk mendukung upaya penegakan hukum dalam memberantas perdagangan dan kepemilikan satwa liar ilegal.

Untuk wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta, PPS dibangun di Dusun Paingan, Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih, Kulon Progo, Yogyakarta. “Kutilang diberi kepercayaan sekaligus tanggung jawab oleh Gibbon Foundation dan Departemen Kehutanan untuk mengelola PPS yang di Yogyakarta,” ujar Direktur Eksekutif Yayasan Kutilang Indonesia, Ige Kristianto. Secara resmi PPSJ yang menempati lahan seluas 13,9 hektar itu mulai beroperasi sejak 7 Juni 2003 dan  memiliki spesialisasi menampung satwa reptilia.

Semua satwa di PPSJ dikelola semaksimal mungkin agar memenuhi kesejahteraan satwa (animal welfare). Pengelolaannya berdasar pada standar IUCN. “Fasilitasnya bagus, penanganan, perawatan dan pemberian makanan dilakukan secara profesional, mirip dengan kebun binatang di Singapura,” komentar Harjanto Halim, pemilik perusahaan minuman “Marimas” yang pernah menyerahkan seekor anak orangutan ‘Fani’ kepada PPSJ.

Di PPSJ, jenis-jenis satwa yang memungkinkan untuk dilepasliarkan (release) lagi, harus menjalani ‘proses pendidikan’ agar dapat hidup bebas di habitat alamnya. “Release adalah bagian dari program PPS,” ujar Sugihartono. Sejak beroperasi, PPSJ pernah melepasliarkan beberapa satwa seperti kijang, ular kobra, landak, labi-labi, burung kasuari, elang laut perut putih dan masih banyak lagi.

Hasil evaluasi akhir tahap pertama yang dilakukan Yayasan Kutilang Indonesia terhadap proyek ini mencatat berbagai permasalahan, diantaranya:

1. Kerusakan habitat sudah sedemikian parah, sehingga sangat sulit menemukan sisa habitat untuk melepas-liarkan satwa-satwa hasil sitaan. Sebelum kegiatan ini dilanjutkan perlu upaya serius pada kegiatan restorasi hutan di Indonesia.

2. Lembaga-lembaga konservasi ex-situ kekurangan sumberdaya sehingga tidak mampu merawat satwa-satwa cacat yang sudah tidak mungkin lagi dilepas-liarkan.

3. Minat beberapa perusahaan penangkar sebagai salah satu tempat disposal satwa dari PPSJ untuk menangkarkan satwa liar dilindungi juga sangat rendah, selain proses perijinan yang dianggap sulit.

4. Pembiayaan untuk perawatan satwa di PPSJ sangat besar karena ketidak-siapan tempat-tempat disposal satwa. hal ini menjebak posisi PPSJ seperti kebun binatang, sehingga tujuan awal sebagai pusat transit satwa guna mendukung upaya penegakan hukum sulit terpenuhi.

Dengan adanya berbagai catatan tersebut dan adanya pemutusan kerjasama antara departemen Kehutanan dan The Gibbon foundation, maka pada tanggal 27 februari 2007, Yayasan Kutilang Indonesia mengakhiri kerjasama dengan donor dan mengembalikan segala aset proyek sesuai kesepakatan antara The Gibbon Foundation dengan pemerintah, dalam hal ini departemen kehutanan cq.Ditjen PHKA.

Selanjutnya, Yayasan Kutilang Indonesia telah menyusun strategi baru guna mendukung program penegakan hukum. Program baru tersebut mencakup dorongan budidaya satwa liar dilindungi untuk memenuhi kebutuhan pasar. Selain itu juga mengembangkan komunitas-komunitas masyarakat pelestari satwa liar dilindungi. Kedua strategi baru ini lebih sesuai dengan visi yang ingin dicapai oleh Yayasan Kutilang Indonesia, yaitu pelestarian satwa burung dan habitatnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

 

2 Komentar leave one →
  1. AGUNG GDE permalink
    Agustus 20, 2011 10:43 pm

    saya sangat tertarik untuk menjadi volunteer di PPSJ Paingan, apakah bisa dimungkinkan? thanks

    • admin permalink
      Agustus 21, 2011 9:26 am

      Sebagaimana telah kami jabarkan, saat ini kami sudah mengembalikan pengelolaan PPSJ kepada The Gibbon Foundation dan Pemerintah, karena kerjasama kami berada di bawah kerjasama kedua pihak tersebut, sehingga ketika kerjasama mereka berakhir maka kerjasama kami juga berakhir.

      Kami sarankan untuk datang langsung ke kompleks PPSJ di Ds. Paingan, Sendangsari, Wates, Kulonprogo. Mungkin masih memungkinkan untuk menjadi volunteer disana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: