Skip to content

Koloni Burung Kuntul Ambarukmo

Juni 5, 2010

Ketika kita melintasi jalan Adisucipto kita akan melihat koloni burung kuntul yang cukup besar. Koloni yang terbesar berada di taman sebelah barat Hotel Ambarukmo sedang koloni satu lagi yang lebih kecil terdapat di sisi barat hotel Sriwedari. Pada pagi hari akan terlihat burung tersebut begitu aktif berpindah dari lokasi Ambarukmo ke Lokasi Sriwedari. Sebagian dari mereka terbang ke daerah sekitar untuk mencari makanan.

Di lokasi ini terdapat dua jenis burung kuntul yaitu Kuntul kerbau (Bubulcus ibis) dan kuntul perak (Egretta intermedia). Setelah dilakukan penghitungan ternyata jumlah total kuntul yang ada di Ambarukmo adalah sekitar 500 ekor. Keseluruhan burung tersebut menggunakan pohon Sawo Manila  (Achras zapota) sebagai tenggeran dan tempat bersarang.

Menurut Nariswari dalam penelitiannya pada tahun 1997 lalu, masa berkembang biak burung dimulai pada bulan Maret sampai dengan bulan Juli. Selama masa berbiak burung ini menghasilkan dua sampai empat butir telur yang berwarna biru pucat. Belum ada catatan ynag pasti tentang waktu yang digunakan untuk mengerami telur dan memelihara anaknya. Dalam makalahnya Nariswari juga mengemukakan bahwan burung ini mengerami telurnya selama 26 hari, kemudian mereka akan memelihara anaknya selama 49 hari.

Yang menarik dari aktifitas kuntul ini adalah aktifitas pembuatan sarang. sarang dibuat dari ranting-ranting kering yang disusun tidak rapi. Aktifitas pembuatan sarang lebih tinggi pada pagi hari. Dalam pembuatan sarang ini Nariswari (1997) menyatakan bahwa ada pembagian tugas antara burung jantan dan burung betina. Burung jantan bertugas mencari ranting kering kemudian burung betina akan menyusun ranting tersebut secara hati-hati.

Keberadaan burung ini di lokasi tersebut ternyata mengundang pertentangan antara dua kepentingan. Di satu sisi pihak pengelola hotel ingin supaya loaksi tersebut bersih dan tidak berbau. Sedang di satu sisi ada pihak yang yang ingin tetap mempertahankan burung tersebut dengan alasan konservasi.

Dari beberapa masukan yang didapat dari lapangan ternyata keberadaan burung tersebut sangat mengganggu. Selain kotorannya yang merusak pemandangan juga bau yang ditimbulkan kotoran burung tersebut juga menjadi masalah yang serius, mengingat lokasi tersebut merupakan sebuah hotel yang banyak dikunjungi tamu dan harus menjaga imagenya di mata para tamu mereka.

Menurut petugas kebersihan yang bertanggung jawab membersihakan halaman dulunya burung ini tidak sebanyak itu. Entah karena sebab apa ternyata akhir-akhir ini jumlahnya meningkat dengan pesat. Betambahnya jumlah burung ini menyebabkan akumulasi kotoran menjadi besar sehingga bau yang ditimbulkan semakin menyengat, diasamping itu jumlah bulu yang rontok juga semakin banyak. Bila musim breeding dimana burung ini mengalami pergantian bulu, akan lebih banyak lagi bulu-bulu yang beterbangan di bawa angin sehingga akan mengotori hotel. Permasalahan yang sama juga dialami oleh Sriwedari Hotel dan Cottage di sebelah selatan Hotel Ambarukmo. Di lokasi ini burung ini istirahat dan membangun sarang di pohon akasia yang banyak tumbuh di halaman hotel tersebut.

Untuk sebagian tamu hotel menurut bebrapa sumber keberadaan burung ini merupakan suatu fenomena alam yang menarik. Aktifitas burung di waktu pagi dan sore hari merupakan aktraksi yang menarik. Terlebih lagi saat musim breeding seperti sekarang, aktifitas pembuatan sarang juga dapat dijadikan tontonan alternatif yang menarik.  Sedang bagi sebagian tamu lainnya keberadaan burung ini malah menjadi masalah yang menjengkelkan. Beberapa tamu hotel, kata petugas parkir, pernah marah-marah karena mobilnya menjadi kotor karena kotoran burung ini. Bau yang ditimbulkan kotorannya juga akan menjadi masalah yang serius karena mengurangi kenyamanan mereka.

Untuk menanggulangi permasalahan yang ada harus dicari satu solusi yang menguntungkan di kedua belah pihak yang berkepentingan. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam menanggulangi kondisi ini adalah dengan mengalihkan lokasi parkir jauh dari lokasi burung dan membersihkan lokasi tersebut secara rutin. Penyemprotan air ke seluruh tempat yang terkena kotoran akan mengurangi bau yang ditimbulnya.

oleh: Elga Putra

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: