Skip to content

Menjadi Saksi Kepunahan Kakatua Masalembo

Juni 5, 2010

kompas-cetak/Jumat, 26 Juli 2002

“SEWAKTU saya masih lajang dulu, kira-kira tahun 1980-an, tak terbilang jumlah burung kakatua di sini, banyaaak, Mas. Bahkan kalau lagi terbang, seolah-olah langit di atas desa ini tertutup sama warna putih rombongan kakatua itu. Suaranya berisik sekali.”
Entah terlalu berlebihan, tetapi itu memang gambaran sederhana Pak Na’mat pemilik perahu tambang yang membawa kami menyeberang ke Pulau Masakambing salah satu pulau utama di Kepulauan Masalembo. “Kalau pas mendekati musim panen jagung, adanya kita cuma was-was, panen.. enggak,…panen ….enggak, yaaah, seperti ngitung tokek itulah, karena kita mesti rebutan panen sama rombongan kakatua itu. Tapi itu dulu, Mas. Kalau sekarang Anda tanya ke anak-anak di sini, mereka tidak bakalan tahu apa itu burung kakatua, karena memang sudah enggak ada. Saya bisa ngomong begini karena dulunya saya juga tani. Daripada nombok terus, ladang itu akhirnya saya relakan ketika ada orang Surabaya yang nawar tanah itu untuk memperluas tambak udangnya.” Pak Na’mat masih meneruskan ceritanya seolah-olah ingin menutupi ketegangan kami menyaksikan ombak yang tingginya 2-5 meter di kiri kanan kami, mempermainkan perahu kayu empat kali dua meter yang kami tumpangi. Perjalanan tiga jam dari Pulau Masalembo ke Pulau Masakambing terasa lebih lama daripada perjalanan pertama kami dari pelabuhan Sumenep, Madura, ke Pulau Masalembo yang sebetulnya memakan waktu lebih lama, yaitu sekitar 20,5 jam.
Pulau Multietnis
Kepulauan Masalembo adalah gugusan pulau yang di Laut Jawa, atau tepatnya berada di sebelah utara Pulau Madura. Secara administratif kepulauan ini termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, dan secara geografis terletak pada 5o02′-5o37′ Lintang Selatan dan 114o25-114o30′ Bujur Timur. Sebelum menjadi bagian dari Kabupaten Sumenep, kepulauan tersebut merupakan bagian dari Karesidenan Sepudi. Setelah digabung kepulauan ini dikukuhkan oleh pemerintah sebagai kecamatan tersendiri yaitu Kecamatan Masalembo.
Pulau Masalembo merupakan pulau terbesar di antara tiga buah pulau besar berpenghuni, seluas kira-kira 2.000 hektar sebagai pusat pemerintahan kecamatan, otomatis juga menjadi pulau terpadat di kepulauan itu. Sementara dua pulau lainnya lebih kecil, yaitu Pulau Masakambing seluas 500 hektar dan Pulau Kramian seluas 300 hektar. Secara administratif pemerintahan kecamatan wilayah ini dibagi menjadi empat desa, yaitu Desa Masalima, Sukajeruk, Masakambing, dan Kramian.
Penduduk kepulauan ini berjumlah 20.000 orang terdiri dari beragam suku, Bugis, Madura, Jawa, Tionghoa, dan Kalimantan, yang masih menunjukkan gambaran kesederhanaan, kegotongroyongan, dan kerukunan etnis di Indonesia. Kebanyakan dari mereka dulunya adalah nelayan yang singgah di Kepulauan Masalembo, tetapi kemudian menetap untuk mencari penghidupan baru di sana.
Untuk mencapai pulau ini kita harus menumpang kapal perintis yaitu kapal barang berbobot mati 30 ton yang telah berubah fungsi menjadi kapal pengangkut manusia dari Madura atau dari Surabaya. Para penumpang dijejer berbaris di palka kapal menjadi satu dengan barang bawaan, kambing, beras, sayuran, dan juga barang-barang kelontong. Atap terpal yang meneduhi penumpang terlihat rapuh dan bolong di sana-sini menunjukkan betapa ganasnya sengatan panas dan hujan jalur Sumenep-Masalembo yang mengiringi usia terpal itu. Bila malam tiba para penumpang akan “disetubuhi” oleh angin laut yang dingin dan lembab. Bagi yang berani bertualang sebenarnya perjalanan yang memakan waktu 20,5 jam ini dapat dipersingkat dengan menumpang kapal pelayaran rakyat atau perahu tradisional nelayan dari pelabuhan Pasean atau Bintaro di Sumenep.
Mendarat di Pelabuhan Masalembo, hari masih pagi. Terlihat berjajar banyak orang menunggu kapal merapat, sambutan khas masyarakat di Masalembo. Bagi penduduk Masalembo semua orang yang datang ke Masalembo dianggap sebagai saudara jauh sehingga senyum ramah dan tulus menjadi suguhan pertama sebelum kami menyeruput kopi panas di warung kopi. Itulah mengapa banyak nelayan dari Jawa, Madura, atau Sumbawa menjadikan Masalembo sebagai rumah kedua mereka yang pasti disinggahi ketika mereka berlayar.
Tapi, sayang kami tidak bisa berlama-lama “melepas kangen” dengan saudara-saudara di Masalembo karena kami harus melanjutkan perjalanan ke “Pulau Kakatua” Masakambing, pulau terbesar kedua di kepulauan Masalembo. Untuk mencapai pulau itu kita harus menyeberang lagi selama tiga jam.Perjalanan yang terakhir ini merupakan bagian yang paling mengasyikkan di mana kita akan bermain-main dengan ombak.
Mabuk laut paling mungkin terjadi bagi petualang yang belum terbiasa dengan goyangan air laut perairan Masalembo yang terkenal besar tersebut. Perahu yang panjangnya cuma empat meter dan lebar dua meter tersebut akan dipermainkan oleh ombak yang tingginya kadang-kadang sampai lima meter.
Kondisi ini hanya dapat dinikmati pada bulan Juni sampai Agustus dan Desember sampai pertengahan Januari. Dari pertengahan Januari sampai pertengahan Maret diperlukan keberanian ekstra untuk melakukannya. Kenapa? Karena bulan ini merupakan musim barat yang ombaknya sangat ganas, kata Pak Na’mat. Bahkan nelayan di sana pun akan berpikir dua kali untuk melaut pada bulan-bulan itu.
Inilah “Pulau Kakatua” Masakambing. Pasir putih pantai Tanjung Selamat menjadi tempat mendarat kami. Bagi kami, pantai ini tidak kalah indahnya dari pantai-pantai pasir putih lain yang pernah kami kunjungi, karena selain bersih, pemandangan di sekitarnya juga sangat alami dan menarik. Untuk mencapai penginapan di rumah kepala desa, kami menumpang “kereta Asterix” (sebutan yang diberikan oleh tim peneliti dari Kutilang IBC kepada kereta kayu yang ditarik oleh kuda), melintasi jalanan tanah Kampung Gunung, meskipun belum di-hotmix tetapi terasa mulus. Di beberapa pohon di kiri-kanan jalan masih terlihat beberapa sarang buatan dari batang kelapa yang pernah kami buat tahun 1997. Sarang buatan itu adalah salah satu upaya Kutilang IBC dan BirdLife Indonesia untuk menyelamatkan kakatua masalembo.
Pulau Masakambing adalah pulau terakhir yang dihuni oleh burung kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea abbotti). Burung ini merupakan satu dari anak jenis kakatua jambul kuning (Cacatua sulphurea) yang penyebarannya meliputi Kepulauan Masalembo (Cahyadin et.al. 1995), Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Nusa Penida. Di Singapura juga ada burung ini tetapi ini merupakan burung hasil introduksi (MacKinnon, 1995).
Cacatua sulphurea abbotti memiliki bulu berwarna putih dengan warna kuning pada bagian bawah bulu primer sayap, bagian bawah bulu ekor dan penutup telinga. Burung jantan memiliki iris berwarna hitam, sedangkan pada betina cokelat kemerahan (Shadili, 1994). Pada bagian atas kepala terdapat jambul berwarna kuning yang dapat digerakkan. Paruh bengkok berwarna hitam yang kuat dengan lidah berbentuk silinder yang lentur. Kaki bertipe zygodactyli,yaitu dua jari menghadap ke depan dan dua jari lainnya menghadap ke belakang. Pada tubuhnya terdapat bulu bedak atau bulu kapas (down feather) yang mengalami penghancuran menjadi butiran-butiran seperti bedak atau tepung yang sifatnya anti air (Prahara, 1994).
Pada saat monitoring pertama yang dilakukan oleh Elga Putra dari Kutilang IBC pada tahun 1995, populasi kakatua kecil jambul kuning hanya ada tujuh ekor dengan komposisi tiga ekor betina dan empat ekor jantan yang tersebar pada tiga lokasi sarang. Sarang pertama ditemukan dalam kebun kelapa di bagian tengah pulau, sarang kedua terdapat pada pohon randu dibagian Barat pulau dan sarang ketiga berada di hutan bakau sebelah Barat sarang yang kedua. Setiap sarang didiami oleh satu pasangan kecuali sarang yang pertama terdiri dari satu betina dan dua ekor jantan. Sedang pada kunjungan pada tahun 1997 hanya terdapat satu sarang dengan lima individu.
Menurut Ir Pramana Yuda MS, seorang ahli perburungan dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta, dengan jumlah individu sekian sebenarnya bisa dibilang kalau kakatua masalembo sudah “punah secara ekologis” karena untuk berkembang biak secara alami sudah sangat sulit. Bahkan kalau bisa pun akan terjadi inbreeding atau kawin dengan saudara dengan hasil anakan yang cacat atau rentan.
Burung “oleh-oleh”
Apabila gambaran yang diberikan Pak Na’mat tentang kakatua masalembo di atas benar, bisa dibayangkan dalam rentang waktu tahun 1980-an hingga tahun 1995 telah terjadi penurunan populasi kakatua masalembo yang sangat drastis. Menurut Kepala Desa Masakambing, burung kakatua sulit ditemui sejak tahun 1985 yaitu ketika mulai dibangunnya pangkalan minyak oleh Pertamina di Pulau Masalembo. Semenjak itu mulai banyak orang yang berdatangan ke Pulau Masalembo, selain orang-orang dari “Kampung Proyek” (kompleks Pertamina), orang-orang angkatan, atau nelayan-nelayan dari Sumbawa.
Menurut penduduk yang lain, beberapa pengunjung “Kampung Proyek” sering minta tolong kepadanya untuk membantu menangkap burung kakatua. “Untuk oleh-oleh,” katanya. Mula-mula hanya satu-dua ekor saja yang dibawa. Tetapi, entah mengapa ketika datang kembali mereka memesan kembali, hingga kadang sampai dua puluh ekor. Sementara itu, nelayan-nelayan yang singgah di Kepulauan Masalembo, terutama dari Sumbawa, juga ikut-ikutan berburu souvenir ini. Lebih gila lagi, karena sekali angkut sekitar 1.000 ekor kakatua masalembo dibawa meninggalkan Masalembo. Kakatua ini mereka beli dari beberapa penduduk atau beberapa anak buah kapal (ABK) sendiri turun untuk menangkap sendiri ke hutan. Mereka menangkap burung ini menggunakan getah “tang” yang ditempelkan pada ranting kemudian ranting tersebut diletakkan pada pohon yang sering dihinggapi kakatua. Atau ada juga yang memperalat kakatua yang sudah jinak sebagai umpan. Burung yang tertangkap kemudian ditampung di dalam kandang berukuran 3×4 meter.
Kelihatannya nasib kakatua masalembo telah menyusul nasib saudaranya yaitu burung jalak bali, di mana kedua jenis burung ini sudah bisa dibilang “habis” di habitat alaminya, tetapi masih banyak ditemui di sangkar-sangkar peliharaan. Upaya pengembalian burung-burung jalak bali peliharaan dan hasil tangkaran, termasuk yang dari kebun binatang di Amerika ke tempat asalnya di Taman Nasional Bali Barat telah banyak dicoba sejak tahun 1980-an tetapi hingga sekarang belum memperlihatkan hasil yang memuaskan.
Burung-burung hasil pelepasan kembali ternyata mempunyai kelemahan dalam menyesuaikan kembali dengan perilaku liarnya, sehingga burung ini mudah ditangkap pencuri di samping tingkat kematian yang tinggi. Tetapi, kalau ini satu-satunya cara yang dapat diterapkan untuk menyelamatkan kakatua masalembo rasanya tetap tidak salah untuk dicoba. Sudah terlambat memang. Tetapi, inilah kita, baru menyadari kesalahan kalau peristiwa buruk itu sudah terjadi. Semoga cara kita memperlakukan kakatua masalembo ini tidak dialami lagi oleh spesies-spesies lain di Indonesia.
Ditulis oleh: Sugihartono Anggota Kutilang Indonesia for Bird Conservation (Kutilang IBC) Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: