Skip to content

Burung Kota?

Juni 6, 2010

Alangkah indahnya pagi bila kita bangun dari tidur dan membuka jendela hembusan angin dingin di pagi hari disertai kicau burung yang merdu. Dan alangkah indahya sore hari bila kita bisa menikmati menikmati burung yang sedang kembali ke sarang. Pengalaman ini hanya bisa kita rasakan bila hutan masih terjaga atau hanya dijumpai di daerah yang agak “ndeso” banget. Di kota?. Ndak tau.

Ketika pembangunan daerah perkotaan semakin pesat kita pun semakin jauh dari makhluk yang namanya burung itu. Pembangunan yang tidak terencana dan terkesan dipaksakan untuk suatu kawasan telah memperkosa hak hidup mereka. Hilangnya pohon-pohon yang merupakan sumber kehidupan burung, banyak burung yang mati oleh nafsu membunuh manusia, pestisida dan pencemaran udara.

Bila kita mau sedikit merenung, kita bisa melihat bahwa burung memiliki manfaat yang tidak kecil dalam kehidupan ini. Pertama burung merupakan obyek yang menarik untuk sarana pendidikan dan penelitian, kedua bahwa burung merupakan sumber plasma nutfah, dalam fungsi rantai makanan burung berperan sebagai penyeimbang dan pengendali hama, burung merupakan salah satu bioindikator lingkungan, beberapa jenis burung berperanan dalam proses penyerbukan, burung juga mempunyai nilai estetis dimana suaranya yang merdu dapat menyejukkan perasaan, terakhir burung merupakan aset wisata yang dapat “dijual” kepada para wisatawan pengamat burung.

Sebagai contoh kasus, – dulu – ketika kita mampir ke halaman Ambarukmo Palace Hotel dan Hotel Sriwedari  di Yogyakarta kita dapat melihat satu koloni burung Kuntul (Bubulcus sp dan Egretta sp) yang cukup besar. Atraksi yang indah dari burung ini bisa kita lihat di atap sebelah barat hotel, sembari mengagumi ciptaan Tuhan tersebut kita dapat menikmati “nasi bakar” ala Ambarukmo (ini bukan iklan) di Kafe Ambarukmo. Di lokasi ini pada sore hari kita dapat melihat atraksi yang indah dari koloni Kuntul yang kembali ke sarang dengan latar belakang berwarna lembayung. Keindahan pemandangan ini tidak akan kita temukan di tempat lain.

Ilustrasi di atas merupakan sebuah contoh dari pemanfaatan burung perkotaan. Disamping itu masih banyak jenis burung di Yogyakarta yang bisa kita nikmati keindahannya. Burung Layang-layang Asia (Hirundo rustica) yang menjadi pengunjung tetap tiap tahun di kawasan jalan Ahmad Dahlan. Mulai dari depan BNI 46 sampai di depan PKU Muhammadiah kita dapat menyaksikan mereka berbaris rapi memenuhi kabel listrik, tiang pemancar radio bahkan pohon pada malam hari. Pada siang hari mereka berpencar ke segala penjuru untuk mencari makan. Selain itu bila kita jalan-jalan ke persawahan di pinggir kota kita akan melihat banya burung gelatik. Mereka terbang berbondong-bondong. Bila beruntung kita juga dapat menyaksikan Gelatik jawa yang sedang mencari makan.

Dari banyak jenis burung di perkotaan juga ada jenis yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Contohnya Colocalia inexpectata atau sekarang lebih dikenal sebagai C. fuciphaga yang oleh masyarakat awam disebut dengan walet sarang putih. Burung ini adalah salah satu jenis yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi. Konon katanya satu kilogram sarang  dengan kwalitas nomor satu bisa laku di pasaran sampai dua juta rupiah. Di beberapa kota seperti Cirebon, Sumenep, dan Purwokerto kita bisa melihat banyak rumah yang dijadikan sebagai kandang walet.

Di beberapa bagian wilayah Yogyakarta masih terdapat banyak pohon yang cukup rindang. Di sana kita akan menjumpai banyak jenis burung. Ada yang mencari makan, ada yang sekedar beristirahat, bahkan ada juga yang menggunakan pohon tersebut untuk bersarang. Akan tetapi sekarang banyak pohon yang  ditebang. Bisa kita bayangkan bila pohon tersebut habis burungpun akan pergi meninggalkan kota sehingga kota menjadi sunyi senyap pada pagi menjelang fajar. Saat bangun tidur kita akan merasa kesepian serta kita akan bertanya “kemanakah gerangan mereka pergi?”.

óóóó

Untuk mempertahankan keberadaan burung di daerah perkotaan diperlukan tata ruang perkotaan yang seimbang antara ruang terbuka dengan jumlah penduduk dan luasannya sehingga tersedia habitat yang cukup bagi burung. Beberapa bentukan tersebut antara lain adanya jalur hijau, taman kota, halaman/pekarangan, kebun raya/kebun binatang, areal pemakaman dan taman kota/hutan kota. Disamping membuat tempat-tempat tersebut hijau dan rindang diperlukan juga peranserta dari masyarakat perkotaan dalam menjaga kebersihan dan kelestarian bentukan tersebut.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menanam pohon. Bagi burung pohon sama seperti rumah, toko, mal, restoran, sawah atau pabrik bagi manusia. Dari hasil penelitian Bastian van Ballen – londo yang meneliti burung selama bertahun-tahun di Indonesia- tahun 1989 lalu ada beberapa jenis pohon yang sering disinggahi burung antara lain:

ÿ  Kiara (Ficus spp), F. benjamina, F. variegata, F. glaberina buahnya sangat disukai oleh burung seperti punai (Treron sp).

ÿ  Dadap (Erythrina variegata). Bunganya yang berwarna mencolok menghasilkan nektar yang disukai oleh burung sepeti jenis-jenis burung madu, Betet (Psittacula alexandri), Serindit (Loriculus pusillus) dan Jalak (Sturnidae).

ÿ  Dangdeur (Gossampinus heptaphylla) mempunyai bunga berwarna merah yang menarik burung ungkut-ungkut dan srigunting.

ÿ  Aren (Arenga sp) memiliki ijuk pada batangnya yang disukai oleh beberapa jenis burung sebagai bahan untuk membuat sarang.

ÿ  Bambu (Bambusa sp) sangat disukai oleh burung blekok (Ardeola sp) dan manyar sebagai tempat bersarang. Sedangkan burung Celepuk (Otus sp), Burung cacing (Cyornis banyumas), Sikatan (Rhipidura javanica), Kepala tebal bakau (Pachycepala cinerea) dan Prenjak meletakkan telur pada pangkal cabang diantara dedaunan atau di dalam batangnya.

Apakah semua pohon-pohon diatas harus ditanam di perkotaan? “Tentu tidak!”.  Untuk di daerah perkotaan – katan ahli tata kota – diperlukan pemilihan pohon yang sesuai sehingga tidak merusak estetika kota dan keindahan kota. Kalo di hutan kota mungkin boleh ya nanam bambu, beringin, atau aren barangkali. Marilah kita lestarikan keberadaan burung di perkotaan dengan tidak merusak pohon, dan berburu burung.

oleh: Elga Putra

Iklan
2 Komentar leave one →
  1. amir permalink
    Februari 24, 2011 11:04 am

    Hello, i have 1 question. Can you tell me what burung layang- layang hate most? My college now become a place to burung layang- layang sleep. The effect is my college now is smelly and dirty. This kind of burung layang- layang not imigrate, they come to my college every year at a certain month. Can you suggest me a ways to get rid of them?? thanks.

  2. Juni 26, 2011 12:19 pm

    Here is some suggestion:
    1. Closed the way birds come in to the nesting areas
    2. Put a board to closed the existing nest
    3. Put a fan near the existing nests

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: