Skip to content

Cacatua sulphurea abbotti tinggal 6 ekor!

Juni 6, 2010

Kepulauan Masalembo, tentu masih sangat asing di telinga kebanyakan kita. Tetapi jika kita pernah mendengar atau membaca sebuah peristiwa tragedi besar tenggelamnya kapal Tampomas II beberapa tahun yang lalu, tentu sedikit-sedikit kita menjadi terkenang.  Dalam tragedi ini puluhan orang tewas dan hilang ditelan ganasnya gelombang perairan Masalembo. Akan tetapi di balik keganasan tersebut ternyata Masalembo menyimpan sesuatu yang menarik yang tidak dapat dijumpai di tempat-tempat lain di sunia ini. Di salah satu dari gugusan kepulauan tersebut  terdapat koloni anak jenis Kakatua-kecil Jambul-kuning (Cacatua sulphurea) yaitu Cacatua sulphurea abbotti yang saat ini jumlahnya hanya tinggal 6 ekor.

Tinjauan Umum

Indonesia memiliki keragaman sumber daya hayati burung yang kaya. Hingga saat  ini menurut Shannaz dkk. dalam Burung-burung Terancam Punah di Indonesia (1995) tercatat sebanyak 1.539 jenis burung, jumlah ini kira-kira 17 % dari  seluruh jenis burung yang ada di dunia saat ini. Dari keseluruhan jenis ini 381 jenis diantaranya merupakan burung endemik, salah satu diantaranya adalah Kakatua-kecil-Jambul-kuning (Cacatua sulphurea).

Kakatua kecil-Jambul-kuning merupakan burung favorit, burung eksotik yang banyak diincar oleh para kolektor, terutama kolektor dari luar negeri. Jenis ini telah lama memiliki hubungan dalam kehidupan dan kebudayaan masyarakat. Pada awalnya jenis ini tersebar luas dan cukup umum terutama di Indonesia bagian Timur seperti Sulawesi dan Nusa Tenggara, akan tetapi saat ini kenyataannya tidak begitu.

Penyebaran dan Status

Kakatua-kecil jambul-kuning tersebar mulai dari Sulawesi, Nusa Tenggara, Nusa Penida dan Kep. Masalembo. Berdasarkan penyebarannya, jenis ini dikelompokkan ke dalam empat anak jenis (sub spesies) yaitu, Cacatua sulphurea sulphurea, Cacatua sulphurea parvula, Cacatua sulphurea citrinocristata dan Cacatua sulphurea abbotti. Berdasarkan kategori keterancaman dari IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resource), sejak tahun 1978, jenis ini dimasukkan ke dalam kategori “genting” (vulnerable). Pada tahun yang sama jenis ini juga dimasukkan ke dalam Appendix II CITES (Convention on International Trade on Endangered Species of Wild Flora and Fauna). Di Indonesia jenis ini dilindungi dengan Undang-undang Republik Indonesia nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Surat Keputusan Mentri Kehutanan nomor 771/Kpts-II/1996 tentang Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dari alam maupun dari hasil penangkapan.

Anak Jenis Cacatua sulphurea abbotti

Cacatua sulphurea abbotti merupakan anak jenis yang sebarannya terbatas atau hanya dapat dijumpai di Kepulauan Masalembu. Survai yang dilakukan oleh Cahyadin tahun 1994 jumlah anak jenis ini diperkirakan antara 8-10 ekor dan hanya terdistribusi di Pulau Masakambing, salah satu pulau dari gugusan Kepulauan Masalembu. Survai yang dilakukan oleh tim dari Kutilang Indonesia Bird Conservation pada tahun 1995 hanya menemukan 8 ekor, 1996 ditemukan 7 ekor, 1997 turun menjadi 5 ekor,  sedang pada survai terakhir pada tahun 2000 ditemukan 6 ekor.

Profil Sosio Ekonomi Masalembu

Kepulauan Masalembu merupakan gugusan kepulauan yang terdiri dari tiga buah pulau yaitu pulau Masalembu, Masakambing dan Karamaian. Secara administratif kepulauan ini termasuk wilayah kabupaten Sumenep, propinsi Jawa Timur. Secara geografis terletak pada 5o02’ – 5o37’ Lintang Selatan dan 114o25 – 114o30’ Bujur Timur.

Kepulauan ini terdiri dari tiga gugusan pulau yaitu Pulau Masalembu (2000 hektar), Pulau Masakambing (500 hektar) dan Pulau Karamaian (300hektar). Berdasarkan data kecamatan tahun 1990 Penduduk kepulauan ini berjumlah sekitar 20.000 jiwa, 80 % diantaranya tinggal di Pulau Masalembu, 5 % di Pulau Masakambing dan 15% di Pulau Karamean.

Pulau Masakambing berada di sebalah Utara Pulau Masalembu. Pulau ini dapat dicapai menggunakan perahu layar motor (PLM) selama 2-3 jam. Pulau seluas 500 hektar merupakan areal perkebunan kelapa yang dikelola secara tradisional. Menurut data kecamatan tahun 1990 pulau ini didiami oleh sekitar 1106 jiwa. Sebagian besar penduduknya adalah suku Bugis dan Madura, disamping itu juga terdapat pendatang dari Kalimantan, Maluku dan  Pulau Jawa. Mata pencaharian utamanya adalah bertani disamping mengelola tambak. Hasil utama dari pulau ini  adalah kopra sedangkan  tambak yang dikelola secara tradisional  menghasilkan ikan bandeng dan udang.

Secara umum tata guna lahan di kepulauan ini  dibedakan menjadi lahan pertanian dan  hutan Mangrove. Lahan pertanian meliputi hampir 80% dari luas pulau. Lahan ini sebagian besar digunakan sebagai perkebunan kelapa dan tambak bandeng. Sisanya merupakan hutan Mangrove sepanjang 14,24 km  di zona intertidal . Daerah pesisir hutan ini didominasi oleh genus Rhizophora sedangkan daerah batas pasang terendah didominasi oleh genus Bruguiera. Antara zona Bruguiera dan zona Rhizophora terdapat tumbuhan dari genus Avicennia, yang didominasi oleh Avicennia apiculata. Tanaman pertanian selain Kelapa adalah Cengkeh (Eugenia sp), Randu (Ceiba petandra) dan tanaman keras lainnya, serta palawija.

Dongeng tentang Cacatua sulphurea abbotti

Sampai saat ini belum ada satu literaturpun yang memberikan informasi tentang awal keberadaan burung tersebut di kepulauan ini. Menurut cerita masyarakat setempat, entah benar atau tidak, katanya  pada zaman dahulu kala pulau ini sering disinggahi oleh  bajak laut untuk mencari makanan dan air tawar. Karena keteledoran budak yang merawat burung, beberapa  ekor burung Kakatua jambul kuning yang mereka bawa, entah dari mana, terlepas. Lama-kelamaan burung tersebut berkembang dan membentuk koloni. Sebagian menyeberang ke pulau Masakambing dan membentuk koloni baru..

Entah mengapa di pulau Karamaian tidak dijumpai adanya anak jenis ini. Sampai saat ini belum ada penelitian yang membahas fenomena ini. Jarak yang cukup jauh dibanding dengan Masakambing dari Masalembu mungkin juga merupakan salah satu faktor disamping faktor geografis yang lain atau karena jarak antara Masalembu dan Karamaian terlalu jauh sehingga mereka tidak dapat menyeberang ke sana.

Penurunan populasi

Sebelum tahun tujuhpuluhan, menurut masyarakat setempat, populasi Cacatua sulphurea abbotti sangat banyak sekali. Bahkan masyarakat di sana sering menggambarkan, jika burung ini terbang, langit seakan-akan menjadi putih. Panen jagung dan kacang sering gagal karena diserang burung ini. Akan tetapi masyarakat setempat tidak pernah menangkap atau membunuh burung ini. Mereka hidup berdampingan walau burung ini kadang menjengkelkan. Masyarakat menganggap burung ini sebagai makhluk Tuhan yang sama dengan mereka. Untuk mengantisipasi serangan burung mereka menjaga kebunnya pada pagi dan siang hari dan sekedar menghalau jika gerombolan burung ini datang.

Setelah masuknya pendatang dari luar dan dibangunnya dermaga angkatan Laut di Pulau Masalembu sektar tahun 80-an tatanan yang telah ada pun berubah. Entah siapa yang memulai, pada saat itu banyak orang menangkapi burung dan menjualnya ke kota atau kepada “para pekerja dan anak buah kapal” yang turun ke darat. Para “pasukan angkatan laut” yang turun ke darat juga menembaki burung ini. Katanya sebagai olah raga, sukur-sukur ada yang cuma kena serempat peluru mereka sehingga tidak mati dan bisa diambil dan dipelihara.

Setelah “pangkalan militer” AL tersebut ditutup tahun 1990 masyarakat setempat masih menangkap burung ini atas pesanan dari pejabat-pejabat dari luar pulau yang kadang-kadang berkunjung ke sana, disamping penangkap burung dari luar seperti dari Buton, Sumbawa dan Madura. Burung hasil tangkapan ini dijual seharga 50.000 per ekor. Penangkapan burung ini dilakukan dengan menggunakan getah dari pohon ‘nangka’ sedangkan masyarakat lokal lebih senang mengambil anak burung tersebut. Sekali datang para penangkap burung tersebut bisa membawa sampai 100-200 ekor burung.

Saat ini burung yang eksotik tersebut mulai punah dari alam. Ironi memang!, dengan kondisi hampir punah tersebut ternyata masih ada juga permintaan akan jenis burung ini. Ketika punulis mengadakan penelitian di pulau tersebut pernah seorang polisi datang dan minta burung kakatua melalui anak kepala desa. Untung saja ia tidak berhasil mendapatkannya.

Penangkapan yang tidak terkendali telah menyebabkan penurunan populasi Cacatua sulphurea abbotti di alam. Sedang penduduk lokal masih memburu burung ini dengan alasan bahwa burung ini adalah hama yang merusak hasil kebun mereka terutama jagung dan kelapa disamping untuk mendapatkan uang pembeli rokok.

Konversi hutan bakau menjadi lahan pertanian, perkebunan dan tambak telah mempersempit tempat hidup Kakatua Masalembo dan secara otomatis akan  mempercepat laju kepunahan anak jenis ini. Penebangan hutan bakau untuk pertambakan bandeng dan untuk memenuhi kebutuhan kayu bakar di kepulauan tersebut saat ini yang paling gencar terjadi akibat masuknya pemodal-pemodal dari luar pulau. Dengan tingginya harga komoditi udang diperkirakan hutan bakau yang ditebang akan semakin luas. Berkurangnya hutan bakau ini tidak saja mengancam kelestarian Kakatua Masalembo saja, tetapi secara lebih luas akan mengancam kehidupan masyarakat Masalembo. Dengan luas pulau yang kecil, ketersediaan sumber daya alam yang ada sangat terbatas,  yang paling utama adalah sumber air. Di beberapa sisi pulau sumber-sumber air yang ada sudah berkurang, bahkan ada yang sudah kering sama sekali sebagai akibat dari hilangnya vegetasi penangkap dan penyaring air. Jika pembabatan hutan bakau ini terus berlangsung, dikhawatirkan dalam sepuluh tahun ke depan masyarakat Masalembo harus membeli air ke Jawa untuk memenuhi kebutuhannya.

Usaha Pemulihan

Akankah keadaan seperti ini terus berlangsung? Jika ia, maka dalam beberapa tahun ke depan kita tidak akan melihat Cacatua sulphurea abbotti di pulau ini. Untuk itu perlu segera dilakukan aksi pemulihan supaya populasi anak jenis ini di pulau Masakambing yang tinggal enam ekor tersebut tidak punah. Di pulau Masalembu, pulau terbesar, dari gugusan kepualauan Masalembo saat ini anak jenis ini sudah tidak dijumpai lagi.

Telah banyak usaha yang dilakukan untuk pemulihan populasi  di Masakambing, diantaranya pada tahun 1996 dilakukan kampanye pelestarian Kakatua Masalembo yang dilakukan oleh Kutilang Indonesia Bird Conservation dan BirdLife International-IP dengan menyebarkan poster dan kunjungan ke sekolah-sekolah. Kegiatan ini terlihat efektif, karena sebelumnya masyarakat memang belum tahu tentang kekayaan yang unik di daerah mereka ini. Dan saat ini mereka berani menolak jika ada orang dari luar pulau yang meminta tolong mereka untuk menangkap burung ini. Disamping itu juga dilakukan uji coba penggunaan sarang buatan sebagai tempat bersarang kakatua untuk mengatasi semakin berkurangnya  pohon yang digunakan sebagai sarang.

Pemulihan populasi dengan melibatkan masyarakat lokal mungkin merupakan satu solusi yang tepat. Dalam aksi tersebut masyarakat diajak untuk melindungi anak jenis ini beserta habitatnya dan  menghilangkan image bahwa mereka adalah hama. Pemberian materi tentang konservasi di sekolah-sekolah diharapkan akan meningkatkan pemahaman anak-anak dan generasi muda di Kepulauan Masalembo pada kelestarian kakatua masalembo dan lebih luas lagi adalah kelestarian kehidupan pulau.

Penggalangan partisipasi masyarakat dalam konservasi lingkungan tidak bisa dilepaskan dari kehidupan ekonomi mereka. Atau dengan kata lain  adalah mengajak mereka untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan pendapatan tanpa merusak lingkungan atau berlaku lebih arif kepada lingkungannya.  Salah satu cara yang sangat mungkin dilakukan adalah meningkatkan nilai dari perkebunan kelapa. Misalnya pemanfaatan limbah kopra seperti sabut kelapa dan tempurung kelapa sebagai bahan baku kerajinan. Masyarakat lokal bisa diajarkan membuat aneka kerajinan dari bahan-bahan tersebut dengan mengundang beberapa orang yang telah berhasil mengembangkannya. Kegiatan ini relatif mudah karena ketersediaan bahan baku yang banyak, serta sifat terbuka dari masyarakat Masalembo yang senang menerima pengetahuan baru dari luar. Disamping itu  tempurung kelapa juga dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif, seperti arang.

Penutup

Semoga tulisan yang singkat ini dapat menjadi suatu gambaran bagaimana kejamnya manusia terhadap lingkungannya. Karena keserakahannya populasi Cacatua sulphurea abbotti di kepulauan Masakambing mengalami penurunan yang drastis. Walaupun saat ini masih ada enam ekor, tapi dengan populasi sekian anak jenis ini sudah dianggap punah secara genetis.

Usaha pemulihan populasi harus dilakukan sesegera mungkin untuk mengantisipasi punahnya anak jenis ini di alam. Usaha tersebut harus dibarengi juga dengan rehabilitasi habitat terutama hutan bakau disamping memberdayakan masyarakat lokal dalam usaha konservasi.

Semoga dengan usaha-usaha yang dilakukan tersebut anak cucu kita di masa yang akan datang tidak  melihat Cacatua sulphurea abbotti dalam bentuk gambar atau burung opsetan di MUSEUM.

Bila anda tertarik untuk mengunjungi Pulau Masakambing bisa menghubungi Kutilang IBC Yogyakarta. Staf Kutilang atau masyarakat setempat akan dengan senang hati untuk memandu selama lima hari melihat kehidupan Cacatua sulphurea abbotti. Dengan banyaknya perhatian dan kepedulian akan kelestarian Kakatua Masalembo ini, diharapkan dapat mendukung usaha-usaha pelestarian yang sedang dan akan dilakukan.

oleh: Elga Putra

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: