Skip to content

Gelatik jawa (Padda oryzivora) Review

Juni 6, 2010

Penyebaran

Tersebar di daerah dengan ketinggian sampai 1500 m (Rudyanto, 1995), di Jawa, Bali, Bawean, tapi sekarang meluas sampai ke seluruh Asia Tenggara dan Australia (MacKinnon,1994).Dilaporkan jenis ini sedikit di Jawa Barat dibanding dengan di Jawa Tengah dan Jawa Timur (kuroda, 1930, dan Kuroda 1933), Bali Widodo et.al.,1998, MacKinnon, 1994). DI Yogyakarta Gelatik Jawa dapat ditemukan sekitar Keraton Yogyakarta (van Ballen 1997), Prambanan (Kuroda (1933), (Richards, van Ballen, 1997) dan Richards, (1988), (Aji, Maret-April 1998), Babarsari (Arganarata, 1997, Press.com), Gunung Kidul (Ngungap, Rongkop) (Yuda, 1997), Kecamatan  Depok, (Sleman), Kec. Prambanan, Kec. Kalasan, Kec. Godean, Kec. Rongkop, Kec. Tepus, Kec Paliyan, Kec. Panggang, Kec. Rongkop.   (Aji, et.al. 1999)

Populasi

Di Yogyakarta populasi Gelatik jawa sudah sangat sedikit. Aji, Maret-April, 1998, memberikan angka 68 ekor Gelatik jawa di komplek Candi Prambanan di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Populasi Gelatik jawa di Kec.Depok ; Januari 1999 terlihat 9 ekor Gelatik jawa pada daerah persawahan di Nologaten ; Februari 1999, 15 ekor di daerah persawahan di desa Catur tunggal, dan 4 ekor terlihat di Bumi perkemahan Babarsari: Prambanan ; 23 ekor di Candi Roro Jongrang (desa Bokoharjo), 17 ekor di Candi Ijo (Desa Sambirejo), 3 ekor di Candi Barong (desa Sambirejo); Kalasan, 5 ekor di Candi Kalasan (desa Tirtomartani), 7 ekor di Candi Sari (desa   Tirtomartani); Godean, 5 ekor di areal persawahan di desa Sidoarum, 1 ekor di desa Sendang Sari ; Rongkop, 17 ekor di areal persawahan dan 1 ekor di Gua Slawu desa Melikan, 3 ekor di Persawahan desa Song Banyu, 3 ekor di Pulau Gelatik (desa Jepitu); Tepus, 3 ekor di areal persawahan desa Purwodadi; Paliyan, 2 ekor di persawahan di desa Kanogoro; Panggang, 6 ekor di daerah persawahan desa Giri Karto (Aji, et.al. Januari-Februari. 1999).

Ecology

Menurut Bartels (unpubl) di Jwa Gelatik jawa menempati tanah olahan dan lahan yang ditanami sampai pada ketinggian 260 kaki. Tidak ada cacatatan Gelatik jawa ditemukan di gunung (Whitehead, 1893). Di Bali Gelatik jawa ditemukan di daerah berhutan dan savana, mangrove, hutan pantai, tanamaan yang sedang tumbuh di tanah olahan, terkadang sampai pada ketinggian 830 m. (Ash,1982, van Helvoort,1987), ada kalanya ditemukan sampai pada ketinggian 1500 m di Jawa Barat (Stressemann,1930).

Di Jawa Gelatik jawa tercatat bersarang dari bulan April sampai dengan bulan Agustus (macKinnon, 1994), pernah ditemukan telur dan anakan pada bulan April dan Juni di Jawa dan Bali (Stresemann, 1913; Kuroda, 1933; Ash, 1982). Di Yogyakarta bersarang di lokasi Candi Prambanan (Aji, 1998, Aji, et.al. 1999) dan Candi yang lain, walaupun tidak semua candi yang digunakan, kecuali yang mempunyai tinggi lebih dari 5 m. Selain itu Gelatik jawa juga menempati tebing-tebing karang di beberapa daerah di Pantai Selatan, desa Song Dawung), sedangkan di Kab. Sleman menggunakan daerah persawahan bersama dengan jenis gelatik yang lain (Aji, et.al. 1999). Di kawasan percadian Prambanan sarang dibuat di celah-celah candi dan celah tumpukan batuan candi. Bentuk sarang berpintu kesamping, dibuat dari rumput-rumput kering, ketinggian sarang tidak kurang dari 6 meter dari lantai candi, jarak antar sarang sekitar 2-4 m, setiap sarang dihuni oleh satu pasang Gelatik jawa (Aji, 1998). Sarang dibuat dari rumput kering pada atap-atap gedung dan villa (Kuroda, 1933); Stresemann,1913) terkadang di lubang  pohon (macKinnon, 1994). Sarang dilapisi dengan potongan daun palem, tumbuhan epifit, atau rumput kering (macKinnon,1994), Gelatik jawa juga membangun sarang pada lipatan-lipatan daun (Kongsberger, 1901-1909) dan celah-celah gua kapur (Kuroda, 1913; vanBallen, pers.obs).

Tekanan

Perburuan untuk dikonsumsi (Bartels, unpubl), untuk diperdagangkan (Vanderman,1885) merupakan ancaman terhadap populasi Gelatik jawa. Perburuan dilakukan sampai ke tempat sarang atau tenggeran (Havernon,1920), dan dijual sebagai bahan makanan terutama ke kerumah makan Cina (hogerwerf and Siccama,1938) dan penggunaan pestisida yang berlebihan (van Ballen, 1938).

Di Yogyakarta tekanan utama terhadap populasi adalah perburuan untuk dijual dan perubahan habitat (Aji, et.al. 1999). Di Komplek candi Pramabanan tekanan utama adalah aktifitas pembersihan candi oleh petugas setempat. Petugas tersebut mengambil nak gelatik dan kemudian dijual (Aji,1998).

Measure

Pembuatan sarang buatan (bird house) di sekitar bangunan candi nampaknya merupakan alternatif paling tepat untuk dapat menjembatani dua kepentingan: konservsi candi, dan pelestarian Gelatik Jawa. Melarang pengambilan sarang, anak ataupun telur yang ada di candi, Menjadikan Gelatik jawa sebagai daya tarik wisata di Candi Prambanan, dengan melakukan :

–          training terhadap para pemandu wisata Candi Prambanan, agar dapat menerangkan kepada pengunjung tentang keberadaan Gelatik Jawa di Candi Prambanan

–          pembuatan papan informasi di beberapa tempat strategis sekitar candi, yang berisi informasi keberadaan Gelatik Jawa

–          Penyebaran leaflet/brosur yang berisi informasi detail tentang Gelatik Jawa, serta ajakan pelestarian alam

(oleh: Elga Putra. 1998)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: