Skip to content

POTENSI EKOWISATA BIRD TOUR DI JOGJA

Juni 6, 2010

Pada saat seperti sekarang ini, manusia terlihat galau menatap masa depan lingkungan dan sumberdaya alam di dalamnya. Degradasi dan kerusakan lingkungan dari hari ke hari semakin meningkat seolah tidak mampu dikendalikan.

Di satu sisi keadaan ini membuat manusia menjadi rindu dengan keadaan alam yang masih alami dimana terdapat simbiose yang masih harmonis pada seluruh komponen alam. Orang orang yang hidup diperkotaan kembali menginginkan suasana pedesaan yang tenang, jauh dari hiruk pikuk sehari hari. Sementara orang orang yang hidup di negara industri berbondong bondong berwisata ke belantara negara tropis daerah yang mereka anggap masih ‘sehat’ dan asri.

Sejak dekade sembilanpuluhan, sektor pariwisata internasional telah mengalami pergeseran ke arah pola wisata alam (ecotourism) dan wisata minat khusus (alternative tourism). Kedua pola ini lebih menjamin tetap terpeliharamya keberadaan dan kelestarian obyek dan daya tarik wisata. Hal inilah yang dirindukan sebagian orang orang selama ini.Sedangakan jenis ekowisata yang secara global sudah umum adalah camping, cycling, tracking, adventuring, dan birdwatching.

Di negara –negara Eropa, birdwatching menjadi kegiatan outdoor terpopuler nomer tiga (Birdwatch, 1999), artinya kegiatan ini sudah menjadi hobi yang diminati oleh mayoritas manusia di sana. Karena sudah menjadi hobi, mereka tidak segan-segan berkorban demi hobi ini. Mereka akan selalu tertantang untuk mengunjungi daerah –daerah baru dan melihat jenis –jenis burung yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Dan negara –negara tropislah yang akhirnya menjadi sasaran mereka.

Peluang ini telah ditangkap oleh tetangga kita, Malaysia. Hampir tiap bulan di negara tersebut digelar Bird Race , yaitu sebuah kompetisi pengamatan burung yang diikuti oleh pengamat –pengamat burung dari seluruh dunia, salah satunya yang pernah penulis ikuti adalah Selangor International Bird Race. Sekitar 300 pengamat burung hadir pada waktu itu, dan sebagian besar berasal dari Eropa dan Jepang.

Bagaimana dengan Indonesia ? Tujuh belas persen jenis burung di dunia atau sekitar 1539 jenis burung hidup di Indonesia, 381 jenis diantaranya adalah jenis endemik yang hanya ada di Indonesia. Bagi seorang wisatawan pengamat burung kekayaan ini akan sangat menarik, tetapi ternyata kenyataannya Indonesia bukan menjadi tujuan utama mereka. Yang datang selama ini hanyalah peneliti –peneliti yang jumlahnya terbatas dan datang bukan untuk bersenang –senang.

Salah satu sebab yang menajdi kendala adalah bahwa birdwatching belum mendapatkan perhatian dari para pelaku dan penggerak industri pariwisata di Indonesia. Sehingga informasi tentang jenis wisata ini tidak pernah terdengar oleh penikmat penikmat birdwatching dunia.

Daerah Istimewa Jogjakarta bisa menjadi pioneer untuk membuka jalan devisa ini. Kekayaan jenis di sini tergolong tinggi. Berdasarkan dari data Kutilang IBC tahun 2001, di Jogja terdapat sekitar 155 jenis burung, meliputi jenis –jenis penetap dan jenis –jenis yang secara rutin datang bermigrasi dari benua Asia. Mereka tersebar di semua tipe habitat yang sangat beragam di DIJ, mulai dari Gunung Merapi, Pegunungan Seribu, Menoreh, dan muara Opak –Progo.

Birdwatching di Pegunungan Seribu

Karena kendala aksesibilitasnya, untuk menjual ekowisata karst Gunung Sewu (baca: kab. Gunungkidul) haruslah memandang Gunung Sewu secara holistik secara menyeluruh, dimana di situ terdapat potensi bentangan karst, gua, laut, terumbu karang, dan birdwatching hanyalah sebagai salah satu point of interest di kawasan tersebut.

Dilihat dari keragaman jenisnya, menurut data dari Kutilang IBC, kawasan Gunung Sewu dihuni tidak kurang dari 80 spesies burung. Beberapa jenis diantaranya merupakan jenis yang eksotik, unik, dan jenis yang sudah langka di Indonesia, diantaranya adalah Gelatik Jawa (Padda oryzivora) dapat ditemui di Song Dawung, Song Banyu, Rongkop, burung Kipasan (Rhipidura javanica), Walet putih (Aerodramus fuchipagus), Ayam hutan hijau (Gallus varius), bermacam macam jenis Elang, dll.

Sedangkan lokasi –lokasi yang potensial adalah :

ÿ  Hutan Wanagama dan sekitarnya

Mencakup kawasan seluas 600 ha yang dikelola oleh UGM dan lokasi –lokasi disekitarnya (Alas Bunder dan pedesaan). Potensi pendukungnya adalah :

  • Keragaman jenis burungnya tinggi, sekitar 70 jenis
  • Keadaan hutannya tergolong baik
  • Sudah ada jalur-jalur pengamatan yang mudah
  • Aksesibilitasnya cukup
  • Tersedia fasilitas pendukung lain (wisma, rumah makan)
  • Sudah populer bagi wisatawan
  • Dapat digabungkan dengan wisata lain yang sudah dikembangkan di wilayah tersebut.

ÿ  Pantai Ngongap, Rongkop

Di tempat ini dapat dijumpai jenis burung yang sangat eksotis, yaitu burung Satek Ekor Merah (Phaeton lepturus). Burung ini sangat indah untuk dinikmati, karena ketika terbang terlihat ekornya yang melambai lambai seperti pita panjang. Jenis seperti ini hanya dapat dijumpai di Pulau Nusa Penida Bali dan pantai Ngongap. Di Ngongap terdapat 10 pasang jenis burung ini yang bersarang di tebing –tebing pantai. Potensi pendukung lain adalah :

  • Pemandangan di tempat itu sangat alami dan indah.
  • Selain dapat melihat burung Phaeton, kita juga bisa melihat ritual pemanenan sarang burung Walet.

Sedangakan faktor penghambatnya antara lain :

  • Merupakan lokasi yang tertutup bagi pengunjung
  • Aksesibilitas rendah
  • Jauh dari pemukiman

ÿ  Pantai Wedi Ombo

Di tempat ini bisa dijumpai koloni burung Gelatik Jawa. Burung ini termasuk dalam jenis yang sudah langka dan masuk dalam jenis jenis burung terancam punah dalam daftar IUCN. Bagi seorang pengamat burung khususnya, merupakan suatu kebanggaan jika dia bisa melihat jenis yang sudah tergolong langka. Faktor pendukungnya adalah :

  • Aksesibilitasnya cukup.
  • Tersedia fasilitas penunjang, seperti penginapan dan rumah makan.
  • Pemandangan indah
  • Tidak jauh dari koloni kelelawar yang juga menarik.
  • Tempat wisata yang sudah populer.

Strategi Pengembangan

Seperti telah penulis uraikan di atas, kawasan karst mempunyai potensi alam yang luar biasa indah dan beragam. Keberagaman tersebut harus dipandang sebagai satu kesatuan, dimana keberadaan satu dan lainnya adalah saling bergantung dan saling menunjang  Pemanfaatan kekayaan sumber alam tersebut akan lebih sustainable jika prinsip –prinsip pengelolaannya mengedepankan asas –asas : (1) keaslian lingkungan dan budaya, (2) keberadaan dan dukungan masyarakat, (3) berkelanjutan, dan (4) kemampuan manajemen ekowisata.

Pemanfaatan sumber daya alam dalam perspektif baru lebih mengedepankan prinsip-prinsip ekologis di bandingkan dengan prinsip ekonomis (Joko Marsono, 1999) karena dengan prinsip ekologis rentang waktu pendapatan yang didapat akan lebih panjang dengan mengeliminir sedikit mungkin perusakan. Keaslian alam dan budaya jika dapat dikalkulasi dengan uang, akan berharga lebih tinggi dibandingkan dengan penjualan berton –ton batu gamping misalnya.

Masyarakat yang hidup secara tradisional harus diakui telah membangun sistem pengelolaan sumber daya alam yang telah menyatu dengan nilai nilai kearifan setempat, teknologi lokal, dan budaya lokal, sehingga didapatkan keseimbangan antara manusia dengan alam (Siregar, 1999). Sehingga dalam pengelolaan sumber daya alam karst Gunung Sewu ini prinsip Co –management, yaitu bahwa kepemilikan bersama mengharuskan pengelolaan kawasan dilakukan bersama sesuai dengan porsi peranan yang dapat dilakukan oleh komponen masyarakat, LSM, dan pemerintah. Pola seperti ini menciptakan tanggung jawab yang akan dipikul bersama terhadap masa depan kawasan karst Gunung Sewu.

Banyak orang berpendapat bahwa perjalanan ekowisata tidak menghasilkan tourist expenditure yang banyak. Tetapai ternyata bahwa perjalanan ekowisata yang memerlukan waktu yang banyak menghasilkan in route benefit yang banyak dan langsung dinikmati masyarakat lokal. Dengan menjual  keragaman potensi Gunung Sewu dalam satu kesatuan yang utuh, pengeluaran wisatawan akan lebih besar sementara dugaan adanya kebocoran devisa dapat ditekan.

Kunci utama pengembangan ekowisata karst Gunung Sewu terletak pada strategi pemasarannya. Adanya informasi yang cukup dan dapat diakomodasi semua orang menjadi prasyarat utama untuk mempopulerkan jenis wisata ini di kabupaten Gunungkidul. Selama ini informasi tentang potensi kawasan ini hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu saja, adalah ilmuwan, karena informasi yang ada hanya terdistribusi dan berbahasa ilmuwan.

Oleh: Sugihartono

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: