Skip to content

Punahnya Musuh-musuh Tikus

Juni 6, 2010

Walaupun Bapak Bupati Sleman sudah mengeluarkan dana yang begitu besar sebagai hadiah bagi penangkap tikus beberapa waktu lau, ternyata Si Tikus tidak habis tetapi malah semakin ganas saja. Ternyata uang hadiah itu tidak bisa berkembang biak, sementara Si Tikus dari hari ke hari semakin beranak pinak. Jadi ya kalah ‘banter’ larinya.

Sederhana saja kita melihatnya, jika ada sesuatu yang dominan atau melebihi batas, tentu karena ada sesuatu juga yang hilang. Dalam kasus tikus ini mari kita tengok lagi garis di belakang kita, siapa sih selama ini yang mengendalikan Si Tikus? Para orang tua kita tentu akan bilang, musuh-musuh Si Tikus itu secara alami ya Si Ular dan burung-burung yang doyan tikus. Terus kemana mereka saat ini, kok jadi lupa dengan tugasnya?

Menurut data teman saya dari LSM Sanca, di Jogja setiap harinya tidak kurang dari 1000 ekor ular berhasil di tangkap. Kebanyakan memang dari wilayah Sleman yang masih banyak sawah dan hutannya. Ada lagi data dari Kutilang Bird Conservation, burung-burung Elang yang notabene adalah pemakan tikus itu sekarang juga banyak diburu dan ditangkap karena banyaknya permintaan dari kalangan tertentu. Burung Elang yang dipelihara dipercaya dapat memperlihatkan status pemeliharanya. Kegiatan-kegiatan ini hanya menguntungkan dan menebalkan kantong segelintir orang saja, sementara bapak-bapak petani menjerit karena gagal panen.

Mengatasi populasi tikus yang semakin tinggi tidak cukup hanya dengan gerakan seremonial dan berjangka pendek saja. Gerakan tersebut harus dipadukan dengan sebuah program yang sifatnya lebih permanen. Mempertahankan keberadaan musuh alami Si Tikus bisa menjadi sebuah program yang lebih efisien. Tidak perlu biaya besar, cukup ada kejelasan hukum yang melarang perburuan jenis-jenis satwa tersebut, sosialisasi kebijakan, partisipasi masyarakat, dan tentu saja penindakan hukum bagi yang melanggar.

Sudah banyak kebijakan perlindungan satwa tersebut, salah satunya adalah Instruksi Gubernur DIY No. 10/ Instr./ 1998, tetapi ini masih berhenti di meja, belum tersosialisasi dengan baik. Banyak juga pemburu yang masih dibiarkan bebas memanggul senapan dan alat penangkap lain.

Di beberapa dusun masyarakat sudah berinisiatif melindungi satwa-satwa tersebut, misalnya di Dusun Jetisan lereng Merapi sana. Tetapi partisipasi masyarakat ini hanya akan sia-sia saja jika ditempat lain perburuan ular dan burung pemangsa itu tetap dibiarkan saja.

Jika program ini berhasil, Insya Allah kita tidak perlu mendatangkan burung Hantu dari luar daerah, karena yang namanya introduksi satwa ke wilayah baru, jangka panjangnya tetap akan mendatangkan masalah baru. Sudah banyak pengalaman dan referensi yang mengungkapkan dampak negatif dari introduksi ini.

Oleh: Sugihartono

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: