Skip to content

Kutilang Mengajak Belajar Tentang Satwa

Juni 15, 2010

Beberapa anak usia sekolah menengah pertama dengan pakaian seragam olah raga sedang berlarian kesana-kemari sambil membawa beberapa lembar kertas dan alat tulis. Dari satu kandang satwa ke kandang lainnya lalu mengamati satwa yang ada di dalamnya dan mencatat di kertas yang ada di tangannya. Beberapa yang lainnya sedang berbincang-bincang dengan kakak-kakak fasilitator. Ada juga yang menanyakan tentang satwa-satwa yang sudah mereka temui.

Ya itulah sekilas gambaran tentang kegiatan Pendidikan Satwa Liar yang dilakukan oleh Kutilang di Taman Margasatwa Semarang. Kegiatan yang diinisiasi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Semarang dan bekerja sama dengan Yayasan Kutilang Indonesia ini dilakukan selama enam hari dari tanggal 23 sampai 28 Juli 2007 dengan peserta berasal dari siswa-siswi SD dan SMP di seluruh Kabupaten Semarang dan beberapa dari Kabupaten Kendal.

Selain untuk mengajarkan tentang satwa liar secara langsung kepada siswa kegiatan ini diharapkan mempunyai efek market yang menguntungkan bagi Taman Margasatwa Semarang sebagai media promosi. Tentunya bukan semata-mata promosi yang hanya beroriantesi profit namun memiliki bobot edukasi yang positif bagi masyarakat. Seperti kita ketahui kebanyakan kebun binatang di Negara Indonesia masih belum menjadikan aspek edukasi sebagai bagian yang harus dijalankan dalam pengelolaannya. Banyak kebun binatang yang hanya mengedepankan fungsi rekreasi dalam arti bersenang-senang semata sehingga melupakan fungsi lain dari kebun binatang yang tidak kalah penting yaitu pendidikan dan konservasi.

Meskipun jumlah peserta tidak sebanyak yang diharapkan, namun keceriaan peserta dan proses berlajar bersama tentang satwa liar tidak terganggu sedikitpun. Pada pembukaan acara, peserta sudah diajak bersama-sama memainkan game yang secara tidak langsung mengajak mereka untuk berpikir tentang kehidupan satwa liar seperti jaring-jaring makanan, ace ventura. Banyak dari permainan ini yang kemudian dapat memberi pengetahuan baru bagi peserta. Dengan sedikit mengalami modifikasi, beberapa permainan bisa diterapkan pada kondisi jumlah peserta yang tidak menentu. Di akhir acara, preserta diajak untuk menguji keberanian dengan meluncur di sebuah tali yang dipasang setinggi lima meter. Atau lebih bekennya disebut flying fox.

Diharapkan dengan diadakannya kegiatan seperti ini, fungsi kebun binatang sebagai media belajar satwa liar bisa ditingkatkan. Pengunjung pun bisa memberikan apresiasi yang lebih positif kepada satwa liar. Tidak semata hanya dijadikan sebagai bahan tontonan dan diperlakukan dengan tidak semestinya. Pihak kebun binatang sendiri bisa mulai mempertimbangkan bentuk pengelolaan kawasan yang mendukung terhadap fungsi edukasi dan tentunya konservasi satwa liar yang memperhatikan aspek animal welfare.

Swiss Winnasis

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: