Skip to content

Melepas Pergi Sang Tukik di Senja Pantai Trisik

Juni 15, 2010

Sang surya mulai beranjak bersembunyi di ufuk barat, seolah akan ditelan oleh ujung laut samudera hindia.
Pancaran sinar merahnya menambah suasana pantai Trisik kala itu (20 September 2007) begitu indah, di tambah deburan ombak yang datang bergulung-gulung dan disambut pasir hitam bak lantai alam nan halus seolah ingin menyeret semua yang berada di sana jauh ke tengah laut.

Senja nan indah bagi kami dan indah juga (mungkin-red) bagi 55 ekor tukik Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) yang dilepas (release) sore hari itu. Para tukik tersebut dilepaskan kembali ke habitatnya di kedalaman laut samudera hindia, bertarung dengan kuatnya ombak yang datang dan pecah ‘bertubrukan’ dengan hamparan pasir yang menantangnya, dan kekuatan ombak pun mampu menyeret para tukik dalam perjuangan mereka merayap menuju tepi laut.

Tukik-tukik yang dilepaskan ini telah mengalami masa pengeraman selama 48 hari, terhitung mulai ditaruh dalam sarang pengeraman oleh warga dan Yayasan Kutilang Indonesia (YKI) pada tanggal 4 Agustus 2007. Tukik-tukik ini berasal dari 2 sarang pengeraman dimana masing-masing sarang berjumlah 118 butir dan 105 butir. Jumlah tukik yang di realese hanya 55 ekor dari total 67 ekor tukik yang berhasil menetas di tahap pertama ini. Sisanya masih di tampung dalam bak penampungan untuk diperiksa kondisiya (morfologinya-red) hingga siap dan bisa untuk dilepaskan ke laut.

Tidak semua tukik dapat keluar dari cangkang telur dan selamat menghirup udara laut, dari hasil pendeteksian pak Khoirun (warga setempat) dan Lim wen Sin (YKI) terhadap kondisi fisik telur dan tukik, pada sarang pengeraman ini terdapat telur yang mengalami pembusukan selain itu juga ada tukik yang mengalami cacat premature, dan kemudian mati (1 ekor tukik) (pers comm.). Maka itu pentingnya sebelum di release para tukik ini di tampung terlebih dahulu dalam bak penampungan dan diperiksa kondisinya serta memantau perkembangannya. Selain itu juga karena penetasan telur-telur tersebut tidak secara bersamaan namun ada jeda waktu, sehingga tukik yang telah keluar dari cangkangnya perlu di tampung terlebih dahulu baru kemudian bersama-sama dilepaskan dalam kondisi yang sehat dan kuat untuk menaklukan ombak dan mengarungi samudera.

Yayasan Kutilang Indonesia bersama warga Dusun Sidorejo, Banaran, Kulon Progo saat ini berhasil mengumpulkan sebanyak 687 butir telur dari 7 kali pendaratan Penyu Lekang. Telur-telur tersebut dibuatkan sarang pengeraman di salah satu rumah penduduk (pak Khoirun). Dalam melakukan pemindahan telur, pelepasan induk penyu dan sampai pada pelepasan tukik, YKI bekerjasama dengan warga setempat, kelompok pengamat burung Jogjakarta, kelompok studi satwa liar FH UGM dan para wartawan yang meliput peristiwa tersebut.

Berdasarkan penilaian YKI, animo para relawan yang terlibat cukup tinggi, kebanyakan masih berstatus mahasiswa, sehingga kami punya harapan besar terhadap mereka di kemudian hari tertarik untuk melakukan penelitian mengenai penyu dari berbagai aspek atau kajian ilmu. Selain itu juga harapan besar berada pada warga masyarakat sekitar, gagasannya agar upaya konservasi juga beriringan dengan upaya peningkatan pendapatan masyarakat sekitar. YKI dan warga sebisa mungkin melakukan kerjasama, bertukar pendapat dan pengetahuan tanpa mencerabut budaya lokal mereka untuk bersama-sama menjaga tempat hidup seluruh makhluk bernama bumi dari wilayah kecil di selatan kota Jogjakarta, dusun Sidorejo Pantai Trisik.

(Naring)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: