Skip to content

Kembali ke Alam Bebas

Juni 21, 2010

Kompas -cetak/Minggu, 3 Mei 2009 (halaman 16)

Lereng selatan Gunung Merapi, menjadi jadi satu-satunya sisa hutan hujan tropis basah yang dimiliki Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi ini menjadi tempat hidup tidak kurang dari 100 jenis burung, di antaranya empat jenis elang, yakni elang jawa (Spizaetus bartelzi), elang bido (Spilornis cheela), elang hitam (Ictinaetus malayensis), dan elang brontok (Spizaetus cirrhatus). Di dalam rantai makanan, elang adalah predator utama yang langsung berperan sebagai penyeimbang ekosistem.

Dari empat jenis elang di lereng selatan Gunung Merapi, elang jawa atau yang biasa disebut bido kucir karena memiliki jambul adalah jenis istimewa. Sukarelawan kelompok pencinta burung Kutilang Indonesia Birdwatching Club (KIBC), Lim Wen Sim, menyampaikan, elang ini paling sensitif. Elang jawa membutuhkan hutan yang masih terjaga dari kerusakan dan perlu tempat tersembunyi untuk bersarang. “Ini yang membuat populasi elang jawa semakin sedikit jika dibandingkan dengan jenis elang lain” tutur Lim.

Para pengamat burung mengidentikkan elang jawa sebagai burung yang sulit dijumpai. Selain jumlahnya relatif sedikit, tempat tinggalnya juga sukar dicapai. Saat ini, menurut pengamatan, hanya tersisa 4 – 5 ekor elang jawa di sisi selatan Gunung Merapi. Keberadaan burung yang menjadi maskot satwa langka Indonesia ini telah didaftar lembaga konservasi International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) dalam kategori endangered Terancam punah.

Pertengahan April lalu, seorang warga Yogyakarta menyerahkan seekor elang jawa yang ia dapatkan dari penjual burung liar kepada Kutilang Indonesia Birdwatch Club. Setelah menjalani perawatan , KIBC bekerjasama dengan kelompok pencinta burung Raptor Club Indonesia berupaya mengembalikan lagi elang tersebut ke habitatnya.

Kegiatan pelepasliaran elang jawa ini dilakukan pada ketinggian 1.257 meter dari permukaan laut di Alas Nglampar, Taman Nasional Gunung merapi, DI Yogyakarta , Sabtu (25/4). Butuh waktu 1,5 jam untuk mendaki tempat tersebut, terhitung dari Dusun Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta.

Pelepasliaran diawali dengan berjalan kaki menuju lokasi sekitar 1,5 jam dari Dusun Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta. Para sukarelawan bergantian menggotng kandang angkut elang jawa, melewati tepian tebing dan jalan menanjak. Sesampai di lokasi, tim mengambil data morfometri, sampel DNA, dan pemberian tanda.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: