Skip to content

Pemanfaatan Sumberdaya Alam, Sebuah Kebutuhan Mendasar dalam Kehidupan Manusia

Juni 26, 2010

Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh penghuninya,

tetapi tidak akan pernah cukup untuk memenuhi keserakahan segelintir orang.

(Mahatma Gandhi)

Pendahuluan

Sejak jaman batu hingga hari ini manusia hidup tergantung dari apa yang dihasilkan oleh alam. Mulai dari cara-cara sederhana seperti meramu dan berburu hingga menggunakan gergaji mesin, mesin pengeruk dalam pertambangan menunjukkan betapa panjangnya sejarah daya dan upaya manusia dalam memenuhi kebutuhannya dari sumber daya alam di bumi ini.

Peradaban atau kemajuan yang telah dicapai manusia sangat berkaitan dengan perubahan lingkungan yang ada. Tekanan terhadap bumi oleh karena kebutuhan manusia terus bertambah. Salah satu sebab kebutuhan manusia yang meningkat adalah meningkatnya populasi, dari masa 200.000 tahun yang lalu hingga jamannya Julius Caesar bumi hanya di huni kurang dari 250 juta. Saat Colombus mengelilingi bumi penduduk yang ada sekitar 500 juta. Sedang pada masa Kemerdekaan Amerika dunia kurang lebih dihuni oleh 1 milyar orang. Nanti pada pertengahan abad 22 penduduk bumi sudah lebih dari 9 milyar. Sementara bumi tidak bertambah besar, dan sumber dayanya tidak juga berlipat secepat pertambahan populasi manusia.

Dalam upaya pemanfaatan sumberdaya alam saat ini telah berkembang dua sisi yang saling melengkapi, dan keduanya bepengaruh terhadap lingkungan, yaitu pengambilan langsung dari alam dan pembudidayaan. Yang berupa pengambilan langsung, misalnya saat ini, setiap detiknya bumi kehilangan paru-parunya satu setengah acre (0,15 hektare) demi kebutuhan manusia akan kayu, lahan pertanian dan padang penggembalaan. Laju kepunahan alami meningkat menjadi seribu kali lipat karena pembalakan hutan, eksploitasi berlebihan dan metode-metode pemanfaatan yang tidak bijaksana.

Di sisi budi daya, kurang lebih 10.000 tahun yang lalu manusia telah berupaya untuk bercocok tanam melalui sumber bibit alam dan saat ini telah begitu banyak jenis yang kita anggap sebagai bibit unggul untuk dikembangkan.

Masalah kepesatan peningkatan kebutuhan sekaligus dengan tingkat eksploitasi dan dampaknya terhadap lingkungkan makin rumit ketika kita berbicara mengenai keadilan distribusinya. Dewasa ini perimbangan dari pemanfaatan hasil bumi tidak dapat dikatakan adil. Seperlima penduduk dunia di negara-negara ‘berfoya-foya’ dengan 80% sumberdaya alam ini, sedangkan negera-negara berkembang dengan jumlah penduduk yang sangat besar hanya mendapatkan sisanya, yaitu seperenambelas yang dipergunakan penduduk negara maju.

Problema negara berkembang; Indonesia negara dengan mega-biodiversitas.

Kawasan dengan luas 7,7 juta kilometer persegi dengan panjang 5.000 kilometer yang terdiri dari 17.508 pulau serta berada di katulistiwa membuat Indonesia menjadi salah satu negara megabiodiversity. Sementara itu dari 40 ribu jenis flora dunia 30 ribu berada di Indonesia dan baru 26% yang dibudidayakan, sisanya masih berada di hutan yang tiap tahunnya berkurang antara 1.500 hingga 2.000 hektar.

Dalam usaha peningkatan produksi kertas Indonesia mencoba memanfaatkan potensi bambu yang ada. Akan tetapi pemanfaatan hutan bambu tanpa prinsip kelestarian dan pengelolaan telah memusnahkan hutan bambu alam di Banyuwangi seluas 25.000 ha dan di Goa 30.000 ha. Hal itu terjadi hanya karena sistem pemanenan konvensional dianggap sulit sehingga traktor yang mengangkat bambu sampai ke akar-akarnya dianggap sebagai pilihan terbaik. Sementara teknik yang digunakan masyarakat di Yogyakarta dengan prinsip kelestarian adalah pemanenan 30 hingga 40% dari setiap rumpunnya hal ini dilakukan dengan dasar bahwa pertambahan jumlah bambu tiap rumpun adalah 30 hingga 40%.

Dalam dunia kesehatan dan obat-obatan pun menunjukkan hal yang sama bahwa kemajuan teknologi yang dicapai tidak mengembangkan aspek kelestarian sumber yang akan berakibat pada kelestarian produksi. Produksi obat tradisional Indonesia tahun 1990 adalah 4.013 ton dan menjadi 7.913 ton di tahun 1994. Hampir semuanya adalah diambil dari tumbuhan liar di hutan. Saat ini banyak jenis tumbuhan obat yang hampir hilang dari muka bumi.

Banyak proyek yang mengatasnamakan pembangunan demi rakyat banyak sering mengalahi proses keberlanjutan peri kehidupan masyarakat lokal dan mengganggu keharmonisan hubungan antar komponen ekosistem. Sebut saja, kebutuhan akan kayu (walaupun lebih banyak untuk dikonsumsi masyarakat barat) harus mengorbankan kehidupan beribu-ribu Orang Rimba di sekitar T.N. Bukit Tigapuluh di perbatasan Jambi dan Riau. Mereka harus rela punah, karena kehidupan keseharian mereka yang sangat tergantung dengan sumber daya hutan telah dirampas oleh pemegang HPH. Keluguan mereka yang tidak bisa baca tulis dimanfaatkan oleh para pelaku eksploitasi dengan cara menyerahkan selembar kertas yang diakui didapat dari pemerintah. Hanya karena budaya mereka mengenal keyakinan bahwa hidup diatur oleh Tuhan, sedangkan alam diatur oleh pemerintah. Berapa banyak lagi masyarakat lokal kita yang penuh dengan pengetahuan (yang tak kalah canggih dengan pengetahuan modern) dan kearifannya (yang sekarang banyak ditiru oleh masyarakat luas karena telah terbukti keunggulannya) harus tergusur oleh kapitalisme dalam konteks upaya mempertahankan hidup ataupun pola pikir dan perilaku.

Peranan lembaga akademisi dan aspek hukum dalam kehancuran keanekaragaman Hayati Indonesia

Sistem pemilikan lahan yang mengacu pada undang-undang Belanda terbukti telah memasung dan memunahkan kearifan tradisional dalam masyarakat. Masyarakat yang dulu mempunyai pemahaman kelestarian karena ada keterikatan dengan alam telah tercabut dari akar budayanya. Bahwa hutan dibagi-bagi seperti kue bagi para HPH telah membuat masyarakat penghuninya tidak dapat lagi dapat mengembangkan budayanya. Masyarakat dianggap sebagai pengganggu dalam proses eksploitasi sumberdaya kayu.

Sejarah menunjukkan bahwa kearifan pemanfaatan sumberdaya alam telah ada sejak dahulu kala. Peraturan adat sasi yang pengatur pemanfaatan sumberdaya alam dari laut hingga hutan adalah salah satu contohnya. Masyarakat Busang telah begitu arif dengan hanya membuka hutan sesuai dengan kebutuhannya.

Akademisi dan lembaga penelitian pemerintah seringkali hanya sebagai legitimator dalam penetapan megaproyek yang orang awam pun akan bisa membayangkan akibat buruknya, seperti pembukaan sawah gambut sejuta hektar. Proyek-proyek transmigrasi tanpa studi yang komprehensif telah memiskinkan penduduk dan juga alam lingkungan.     Produk-produk hukum yang dibuat tidak lebih hanya formalitas bahkan kadang hanya sebagai kamuflase eksploitasi dari kaum pemodal.

Renungan

Seorang Kepala Suku Indian di Seattle mengungkapkan kata-kata bijaknya di depan Presiden Franklin Pierce yang terjemahannya adalah sebagai berikut;

‘Bagaimana engkau dapat membeli atau menjual langit dan tanah? Gagasan aneh bagi kami. Jika kami bukan pemilik kesegaran udara dan kejernihan air, bagaimana engkau dapat membelinya? Setiap bagian dari bumi ini suci bagi rakyatku. Setiap lembar daun pinus yang bersinar, setiap pantai berpasir, setiap tetes embun di hutan yang gelap, setiap padang rumput, setiap serangga berdengung. Semua suci dalam ingatan dan pengalaman rakyatku..

Jika kami menjual tanah kami kepadamu, ingatlah bahwa udara berharga bagi kami, bahwa udara membagi jiwanya pada semua kehidupan yang mendukungnya. Angin yang memberikan nafas pertama pada kakek kami juga menerima hembusan terakhirnya. Jadi jika kami menjual tanah kami kepadamu, engkau harus menjaganya agar tetap suci, menjadikannya tempat ke mana manusia dapat pergi untuk merasakan angin yang dimaniskan oleh bunga-bunga padang rumput.

Maukah engkau mengajari anak-anakmu apa yang telah kami ajarkan kepada anak-anak kami? Bahwa bumi adalah ibu kita? Apa yang menimpa bumi akan menimpa putra-putra bumi.

Kami mengetahui hal ini: Bumi tidak dimiliki manusia manapun, manusialah yang dimiliki bumi. Semua benda saling berkaitan seperti darah yang mempersatukan kita semua. Manusia tidak menganyam jaringan kehidupan, ia hanya seutas benang dalam jaringan itu. Apa yang ia lakukan pada jaringan itu, ia lakukan pada dirinya sendiri.

Satu hal yang kami ketahui: Tuhan kami juga Tuhanmu. Bumi berharga bagiNya dan melukai bumi adalah menumpuk kebencian pada Penciptanya’.

Adalah seharusnya saat budaya materialisme yang dikembangkan harus merujuk pada keseimbangan alam, paling tidak demi berlangsungnya kebudayaan manusia yang bersifat materialis ini sendiri. Pendekatan-pendekatan eksploitasi yang selalu dari pusat dan diatur dari pusat tiba masanya harus diakhiri. Masyarakat pinggiran yang tidak mendapatkan rasa nyaman dan enaknya teknologi canggih pengganti kesejukan dan kenyamanan alami yang telah hilang dan selama ini hanya menjadi pelaku eksploitasi langsung atas tekanan pemodal tiba saatnya diberi kesempatan kembali mengelola alamnya.

Bacaan:

  • Al Gore. Bumi dalam Keseimbangan, ekologi dan semangat manusia. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. 1994.
  • Sulthoni, A.Tuntutan Konservasi dalam Non-timber Management. Makalah dalam Lokakarya Paradigma Baru Manajemen Konservasi. CGIF. Yogyakarta 1999.
  • CSIS. Analisis CSIS; Kebudayaan, Kearifan Tradisional dan Pelestarian Lingkungan. November-Desember. Jakarta. 1995.
  • B. Primarck, Richard dkk. Biologi Konservasi. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. 1998.
  • Pramono, S. Tuntutan Konservasi dalam Non-wood Management. Makalah dalam Lokakarya Paradigma Baru Manajemen Konservasi. CGIF. Yogyakarta 1999.

‘ Jangan biarkan setetes air pun yang jatuh di tanah masuk ke laut tanpa melayani rakyat’ Parakrama Bahu I, Raja Srilanka abad XII

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: