Skip to content

Apakah Burung-burung Migran pembawa wabah penyakit?

Juli 27, 2010

Judul Proyek: The effective carrier of the Avian Influenza in Indonesia: preliminary field research and Capacity Building

Jangka Waktu: 33 bulan (Januari 2006 sampai Oktober 2008)

Manager Proyek: Lim Wen Sin (Periode 1 dan 2), dan Meyardi Mujiyanto (Periode 3)

Mitra: Indonesian Ornithologist Union (IdOU), The U.S. Naval Medical Research Unit Two (NAMRU2), Pusat Informasi Lingkungan Indonesia (PILI), Jaringan Pusat Penyelamatan Satwa, dan Badan Penelitian Kesehatan Departemen Kesehatan (Balitkes)

Merebaknya pandemi flu burung (avian influenza) di berbagai negara, termasuk Indonesia membuat banyak kalangan resah. Jenis penyakit ini tidak lagi menyerang unggas atau burung saja tetapi juga telah menjangkiti manusia dan menjadi penyakit yang mematikan. Sejumlah nyawa manusia telah melayang akibat penyakit ini. Yayasan Kutilang Indonesia, sebagai sebuah LSM yang menaruh perhatian terhadap konservasi burung juga prihatin dan mencoba membuat penelitian tentang penyakit ini.

“Kami sangat prihatin karena banyak orang yang mencoba mencintai burung di alam bertanya apakah mereka dapat terkena flu burung juga,” ujar Direktur Yayasan Kutilang Indonesia, Ige Kristianto. Kekhawatiran para pengamat burung di alam itu cukup beralasan karena ada sinyalemen, salah satu carrier atau pembawa virus flu burung (H5N1) adalah burung migran.

Padahal burung migran adalah salah satu obyek pengamatan burung yang amat menarik. Setiap tahun, para birdwatcher atau pengamat burung selalu menunggu-nunggu kedatangan burung-burung ini.

Berangkat dari keprihatinan itulah, Kutilang berinisiatif membuat penelitian awal tentang kebenaran adanya virus flu burung pada burung-burung migran. Pemilihan site penelitian diutamakan pada lokasi-lokasi persinggahan burung migran di pulau Jawa. Terutama di sepanjang pantai utara dan beberapa di pantai selatan pulau Jawa. Bagi Indonesia, ini adalah penelitian pertama yang pernah dilakukan.

Hal ini sangat penting karena Indonesia menjadi persinggahan burung-burung migran. Jika benar burung migran adalah salah satu carrier, perlu ada tindakan sistematis untuk mencegahnya sebab Indonesia menjadi wilayah yang rentan terhadap penyebaran virus ini. Di beberapa tempat, bahkan burung migran juga sering diburu untuk dikonsumsi.

Dari sudut pandang konservasi, kejelasan soal ini juga sangat penting untuk mencegah pemusnahan terhadap spesies-spesies burung migran. Padahal berdasarkan Konvensi Ramsar, semua spesies burung migran adalah spesies yang dilindungi.

Hasil dari penelitian jangka panjang ini cukup membuat tenang, karena peran burung migran dalam menyebarkan virus flu burung sangat kecil. Meski demikian kita tidak boleh lengah, sehingga proses monitoring harus terus kita lakukan. Untuk itu Yayasan Kutilang Indonesia terlibat secara aktif dalam penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Nasional Penanganan Flu Burung pada Burung Liar di Indonesia. Guna meningkatkan kapasitas para pelaku, kami juga menyusun buku pedoman pelaksanaan surveilans flu burung pada burung liar berdasarkan pengalaman kami. Buku ini juga dilengkapi dengan serial film Tutorial untuk membantu proses pelatihan bagi tenaga pelaksana surveilans di lapangan. Ketiga seri film tersebut dapat ditonton disini.



No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: