Skip to content

Elang-ular Bido

Agustus 21, 2011

Elang-ular Bido, TN Baluran © Swiss W.

Crested Serpent Eagle
Spilornis cheela (Latham, 1790)
Alang Tampien (Sumatera), Ulung Ular (Sunda), Bido Keling (Jawa)

Deskripsi
Berukuran sedang (50 cm), berwarna gelap. Sayap sangat lebar membulat, ekor pendek. Dewasa: tubuh bagian atas coklat abu-abu gelap, tubuh bagian bawah coklat. Perut, sisi tubuh, dan lambungnya berbintik-bintik putih, terdapat garis abu-abu lebar di tengah garis-garis hitam pada ekor. Jambulnya pendek dan lebar, berwarna hitam dan putih. Ciri khasnya adalah kulit kuning tanpa bulu di antara mata dan paruh. Pada waktu terbang, terlihat garis putih lebar pada ekor dan garis putih pad pinggir belakang sayap. Ras Kalimantan berwarna lebih pucat dan coklat. Remaja: mirip dewasa, tetapi lebih coklat dan lebih banyak warna putih pada bulu.
Iris kuning, paruh coklat-abu-abu, kaki kuning.

Suara
Sangat ribut, melayang-layang di atas hutan, mengeluarkan syara nyaring dan lengking “kiu-liu”, “kwiiik-kwi”, atau “ke-liik-liik” yang khas, dengan tekanan pad dua nada terakhir, dan “kokokoko” yang lembut.
http://www.xeno-canto.org/embed.php?XC=33419&simple=1

Penyebaran dan Ras
India, Cina selatan, Asia tenggara, Palawan, dan Sunda Besar. Terdapat di seluruh Sunda Besar dan mungkin merupakan elang yang paling umum di daerah berhutan sampai pada ketinggian 1.900 m. Ada 21 sub-spesies yang dikenal dengan persebaran sebagai berikut:

  • cheela (Latham, 1790) – India Utara dan Nepal.
  • melanotis (Jerdon, 1844) – India Selatan .
  • spilogaster (Blyth, 1852) – Sri Lanka.
  • burmanicus Swann, 1920 – Burma, China Barat-daya, Thailand dan Indochina.
  • davisoni Hume, 1873 – Kep. Andaman ; Mungkin juga di Kep. Nicobar.
  • minimus Hume, 1873 – Kep. Nicobar Tengah.
  • ricketti W. L. Sclater, 1919 – Vietnam Utara dan China Selatan.
  • perplexus Swann, 1922 – Selatan Kep. Ryukyu.
  • hoya Swinhoe, 1866 – Taiwan.
  • rutherfordi Swinhoe, 1870 – Hainan.
  • palawanensis W. L. Sclater, 1919 – Palawan (Filipina).
  • pallidus Walden, 1872 – Dataran rendah Kalimantan bagian utara.
  • richmondi Swann, 1922 – Kalimantan Selatan.
  • natunensis Chasen, 1934 – Kep. Natuna dan Belitung.
  • malayensis Swann, 1920 – Semenanjung Malaysia, sekitar Kep. Anambas dan Sumatra Utara.
  • batu Meyer de Schauensee & Ripley, 1939 – Sumatra Selatan dan Kep. Batu (di barat Sumatra).
  • abbotti Richmond, 1903 – P. Simeulue (di barat Sumatra).
  • asturinus A. B. Meyer, 1884 – P. Nias (di barat Sumatra).
  • sipora Chasen & Kloss, 1926 – Kep. Mentawai (di barat Sumatra).
  • bido (Horsfield, 1821) – Jawa dan Bali.
  • baweanus Oberholser, 1917 – P. Bawean (utara P. Jawa).

Lokasi: TN Baluran © Swiss W.

Kebiasaan
Sering terlihat terbang melingkar di atas hutan dan perkebunan, antar psangan sering saling memanggil. Pada saat bercumbu, pasangan memperlihatkan gerakan aerobatik yang menakjubkan walaupun biasanya tidak terlalu gesit. Sering bertengger pada dahan yang besar di hutan yang teduh sambil mengamati permukaan tanah di bawahnya. Memakan ular, kadal, katak, verteberata, dan terkadang mamalia kecil.
Sarang di hutan yang rapat tersusun dari ranting berlapis dedaunan. Telur 1-2 berwarna putih suram dengan bercak kemerahan. Berbiak setiap waktu sepanjang tahun.

Status
Daftar merah IUCN : Resiko Rendah (LC)
Perdagangan internasional: Appendix II, dapat diperdagangkan dengan pengaturan tertentu
Perlindungan: PP  No. 7/1999

Galeri
Oriental Bird Images
Foto Biodiversitas Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: