Skip to content

Elang-alap Shikra

Agustus 22, 2011

Elang-alap Shikra, Banda Aceh © Agus Nurza

Shikra
Accipiter badius (Gmelin, 1788)

Deskripsi
Berukuran sedang (32 cm) berwarna pucat. Jantan: tubuh bagian atas abu-abu pucat dengan bulu primer hitam kontras, tenggorokan putih dengan strip abu-abu samar di tengah tenggorokan; dada dan perut bergaris merah karat dan putih sempit melintang. Betina: seperti jantan, tetapi punggung coklat dan tenggorokan abu-abu. Remaja: coklat abu-abu bersisik merah karat, tubuh bagian bawah bergaris coklat, ada strip hitam di tengah tenggorokan. umumnya sukar sekali dibedakan dengan remaja accipiter lain di lapangan.
Iris kuning sampai coklat, paruh coklat, dan kaki kuning.

Suara
Biasanya diam, siulan “kyiuw” di daerah berbiak.
Belum ada rekaman suara yang diambil dari wilayah Indonesia

Penyebaran dan Ras
India, Cina selatan, dan Asia Tenggara. Pengunjung musim dingin yang tidak umum di dataran rendah Sumatra, hanya sedikit catatannya, kemungkinan jarang dikenali. Secara global ada enam sub-spesies yang dikenal, yaitu:

  • cenchroides (Severtsov, 1873) – Azerbaijan, Kazakhstan dan Iran sampai barat-laut India, bermigrasi lebih jauh ke selatan saat musim dingin.
  • dussumieri (Temminck, 1824) – India bagian tengah dan Bangladesh.
  • badius (Gmelin, 1788) – India barat-daya dan Sri Lanka.
  • poliopsis (Hume, 1874) – India timur-laut ke timur sampai China, ke selatan sampai Thailand dan Vietnam.
  • sphenurus (Rüppell, 1836) – Senegambia ke timur sampai barat-daya Arab, ke timur sampai Zaire utara dan Tanzania utara.
  • polyzonoides A. Smith, 1838 – Zaire selatan dan Tanzania selatan sampai bagian utara Afrika Selatan.

Kebiasaan
Berburu dari tenggeran pohon di pinggir hutan, daerah hutan terbuka, dan areal pertanian. Mengejar burung, kadang-kadang terbang melingkar tinggi di angkasa.
Makanan utama kadal dan burung-burung kecil. Juga memakan telur dan anakan burung, kelelawar, tikus, katak, serangga, dan sesekali bangkai hewan.
Mulai membuat sarang dan mengerami telur biasanya pada penghujung musim kemarau. Telur 1-5 (3-4) butir dan dierami selama 30 hari. Anakan mulai belajar terbang dan meninggalkan sarang umur 32 hari.

Status
Daftar merah IUCN : Resiko Rendah (LC)
Perdagangan internasional: Appendix II, dapat diperdagangkan dengan pengaturan tertentu
Perlindungan: PP  No. 7/1999

Galeri
Oriental Bird Images

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: