Skip to content

Elang Kelelawar

Oktober 4, 2011

Bat Hawk
Macheiramphus alcinus (Bonaparte, 1850)

Elang Kelelawar

Deskripsi:
Berukuran sedang (45 cm). Elang dengan mulut lebar dan paruh mungil yang rapuh. Mata kuning dengan tenggorokan dan penutup mata putih, terlihat kontras dibandingkan warna bulu tubuh bagian depan maupun belakang yang hitam. Sayap panjang dan bersudut.

Suara:
Biasanya diam ketika berada jauh dari sarang. Panggilan perlahan “kek-kek-kek-…” digunakan ketika berhubungan dengan pasangannya di saat hari mulai gelap. Sebelum mulai berburu, pejantan akan mengeluarkan suara “kwik-kwik-kwik-kwik” atau “kwiep” yang diulang-ulang secara cepat dan keras. Suara lembut dan berirama “chuk-chik-chuk” dan “woot-woot-woot” digunakan untuk mengusir pendatang.
Belum tersedia rekaman suara yang diambil dari wilayah Indonesia.

Penyebaran dan Ras:
Afrika, Asia Tenggara, dan Papua Nugini. Di Indonesia daoat ditemui di wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Terdapat tiga sub-spesies yang dikenal:

  • alcinus Bonaparte, 1850 – Myanmar selatan, Thailand barat, Semenanjung Malaysia, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi Utara.
  • papuanus Mayr, 1940 – Kawasan Papua Timur.
  • anderssoni (Gurney, 1866) – Senegambia, Ethiopia, Afrika Selatan, dan Madagaskar.

Tempat Hidup dan Perilaku:
Burung penetap di daerah tropis. Terutama menghuni hutan alami, hutan tanaman, dan perkebunan. Juga dapat ditemukan di daerah lain dimana kelelawar dan mangsa lain berada saat senja sampai ketinggian 2000 m, seperti: tebing di bukit kapur, sungai, danau, sampai lampu jalanan dan stasiun kereta di perkotaan. Terbang berkeliling di sekitar sarang atau jalur terbang kelelawar saat senja hari menunggu kelelawar keluar untuk berburu. Setelah memilih calon mangsa, terbang dan bermanuver dengan cepat untuk mencengkeram mangsa dari belakang atau atas, kemudian segera menelan mangsa. Burung dan kelelawar berukuran besar akan dibawa dulu ke tenggeran untuk kemudian dimakan.
Terutama memakan kelelawar kecil dan walet yang bersarang di tebing dan gua. Juga memakan serangga besar dan burung lain sampai seukuran burung dara seperti: layang-layang, cabak, wiwik, dan keluarga burung passerine lainnya.
Sarang berukuran 0,5-1 m yang tersusun atas cabang, ranting dan daun. Musim berbiak April-September untuk burung di Malaysia dan Sumatra. Telur 1-2 yang dierami selama 48 hari. Anakan mulai meninggalkan sarang umur 67 hari.

Status
Daftar merah IUCN : Resiko Rendah (LC)
Perdagangan Internasional: Appendix II, dapat diperdagangkan dengan pengaturan
tertentu.
Perlindungan: PP  No. 7/1999

Galeri
Oriental Bird Images

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: