Skip to content

Uncal Ambon

November 7, 2011

Uncal Ambon albicapilla, Gn. Mahawu, Manado © Ingo Waschkies

Slender-billed Cuckoo-dove  (Brown Cuckoo-dove)
Macropygia amboinensis (Linnaeus, 1766) 
Kuow (minahasa), Limorampe’ (Muna), Warames (Mamberamo)

Deskripsi
Agak besar (36 cm). Secara umum diselimuti bulu berwarna coklat kemerahan, pada tubuh bagian atas lebih gelap dari bagian bawah. Kepala dan leher burung jantan berbulu abu-abu merah jambu, sementara pada betina dan burung remaja semuanya coklat.
Mirip dengan Uncal Paruh-hitam. Bedanya, ukuran Uncal Paruh-hitam lebih kecil, terlihat lebih ramping, dan warna coklat lebih gelap, paruhnya hitam lebih pendek, ekor berpalang dan bagian atasnya hitam. Jantan coklat merah-karat tua. Betina sangat berpalang.

Suara
Serangkaian suara yang khas, teriakan dua suku yang menyambung naik: “woo-up woo-up woo-up…” diulang secara monoton dengan jarak waktu rata-rata enam suara tiap 10 detik.
Sangat mirip dengan suara panggilan Uncal besar.
http://www.xeno-canto.org/embed.php?XC=68624&simple=0

Persebaran dan ras
Seluruh pulau Papua, Sulawesi, Maluku, ke arah timur sampai Kep.Bismarck, dan Australia selatan.
Memiliki 15 sub-spesies dengan daerah persebaran:

  • sanghirensis Salvadori, 1878 – Kep. Talaud (Karakelong, Salebabu, Sara kecil) dan Kep. Sangihe (Sangihe, Siau, Tahulandang, Ruang).
  • albicapilla Bonaparte, 1854 -Sulawesi dan pulau-pulau di ujung timur-laut (Manadotua, Manterawu, Bangka, Lembeh) serta tenggara (Muna, Butung, kep.Tukangbesi), juga di Kep.Banggai (Peleng). Jantan: dahi berwarna krem, mahkota keabu-abuan. Betina sangat mirip dengan betina M. a. amboinensis .
  • batchianensis Wallace, 1865 – Maluku Utara: Morotai, Halmehera, Bacan, Obi, Kasiruta, Kayoa dan Ternate.
  • amboinensis (Linnaeus, 1766) – Maluku Selatan: Buru, Seram, Ambon dan Seram Laut.
  • keyensis Salvadori, 1876 – Kep. Kai (Maluku Tenggara).
  • doreya Bonaparte, 1854 – Papua Barat (Waigeo, Misool, Kofiao, Salawati, Batanta) dan Papua barat-laut ke timur sampai Teluk Cendrawasih.
  • maforensis Salvadori, 1878 – P. Numfor (Teluk Cendrawasih).
  • griseinucha Salvadori, 1876 – P. Mios Num (Teluk Cendrawasih).
  • kerstingi Reichenow, 1897 – P. Yapen (Teluk Cendrawasih) dan pesisir utara Papua dari Memberano dampai teluk Astrolobe.
  • goldiei Salvadori, 1893 – Pesisir selatan Papua tenggara dari kawasan Merauke sampai Teluk Milne.
  • meeki Rothschild & Hartert, 1915 – P. Manam, ujung timur-laut Papua.
  • carteretia Bonaparte, 1854 – Kep. Bismarck (kecuali New Hanover) dan Kep. Lihir.
  • hueskeri Neumann, 1922 – New Hanover.
  • cinereiceps Tristram, 1889 – Kep. D’Entrecasteaux.
  • cunctata Hartert, 1899 – Kep. Louisiade.

CatatanMacropygia amboinensis dan M. phasianella (Sibley and Monroe 1990, 1993) telah digabung menjadi satu spesies M. amboinensis mengikuti Christidis dan Boles (1994). Masih diperlukan penelitian lebih jauh untuk mengklarifikasi kepastian tentang keragaman ras dan juga perbedaan dengan jenis-jenis yang sangat mirip.

Tempat hidup dan Kebiasaan
Sering dijumpai sampai ketinggian 1800 mdpl, jarang sampai 2300 mdpl. Hidup sendirian atau berpasangan, tetapi berkumpul bersama dalam kelompok kecil saat mencari makan di hutan, hutan sekunder, hutan rawa, semak, lahan budidaya, dan taman-taman. Memakan buah-buah kecil dan biji-bijian.

Status
Daftar merah IUCN : Resiko Rendah (LC)
Perdagangan Internasional:
Perlindungan:

Galeri
Oriental Bird Images
Foto Biodiversitas Indonesia

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: